Basis Ontologis Klasifikasi Ilmu

Segala puji bagi Allah Sang Maha Kasih diatas para Pengasih, Sang Maha Penyayang diatas para Penyayang. “Kalau seandainya kamu menghitung nikmat Allah maka takkan pernah mampu.”. Segala puji  bagi Allah yang apabila pepohonan dijadikan pena dan seluruh lautan dijadikan tintanya, hanya untuk menuliskan asma Allah, maka takkan tercakup sedikitpun. Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan cahaya ilmu dan akal, sehingga dengannya manusia mampu  membedakan  dua jalan dan membimbingnya menuju kebenaran. Shalawat serta salam senantiasa tercurah limpahkan kepada cahaya petunjuk yang utama, puncak tauladan teragung, penutup para Nabi dan junjungan para pecinta. Muhammad saw, beserta keluarganya yang suci dan sahabat yang setia.

Ilmu pengetahuan menempati kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia, baik secara individual sebagai sebuah pengenalan diri kemanusiaanya, dan juga konteks sosial dalam pembentukan peradaban  madani dan sempurna. Manusia mengenal ilmu, bersumber dari epistemologi yang bertugas menjustifikasi bahwa sebuah informasi bisa sah disebut ilmu. Hal ini, sekaligus telah membuktikan status ontologis obyek ilmunya dan tentu saja, mengklasifikasikanya menjadi beberapa cabang keilmuan sebagai konsekuensi logisnya. Pengklasifikasian ini, mensicayakan kita umat manusia, mudah dalam memahami dan menjelaskan pelbagai keilmuan, yang ‘ada’ dan bisa kita jadikan batu pijakan dalam berfikir.

Pemahaman yang benar terhadap obyek dan klasfikasi ilmu tersebut, akan  menentukan cara pandang kita terhadap ilmu dan alam semesta ini. Tulisan singkat ini, berusaha untuk mengupas tema tersebut.

Basis Ontologis Klasifikasi Ilmu

Salah satu pertanyaan mendasar pada diri manusia adalah, apakah yang bisa kita -manusia- ketahui ?. Maka, pertanyaan ini menjadi salah satu kupasan inti dalam epistemologi. Jawaban dari pertanyaan ini bisa beragam, tergantung dari epistemologi (filsafat ilmu) manakah yang digunakan. Epistemologi barat modern, mengatakan bahwa ilmu (sains), yang bisa diketahui manusia adalah “segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi oleh indera”. Sementara selainya tidak, hal ini dikarenakan epistemologi barat membatasi kajianya hanya pada bidang obyek yang bersifat empirik. Berbeda dengan pandangan tersebut, epistemologi Islam, mengatakan bahwa ilmu yang bisa diketahui manusia, bukan hanya mencakup obyek fisik inderawi semata, tetapi lebih daripada itu, manusia juga mampu untuk mengenali selainnya, yakni obyek metafisika.

Setiap cabang ilmu yang dihasilkan oleh sebuah epistemologi tidak akan mencapai status ilmiah yang sah, kecuali status ontologis obyeknya jelas dan diakui. Oleh karena itu, status ontologis obyek-obyek ilmu akan sangat berpengaruh sebagai basis klasifikasi ilmu. Orang-orang yang tidak mengakui status obyek ilmu metafisika, misalnya, tidak akan mengakui status ilmiah dari ilmu yang menjadikan obyek-obyek tersebut sebagai materi subyeknya karena kalau status ontologis sebuah obyek diragukan, bagaimana kita bisa mencapai pengetahuan tentang obyek itu sebagai mana adanya. Pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya, yang merupakan definisi ilmu, hanya bisa diakui apabila status obyek tersebut telah diafirmasi. Jika tidak, bagaimana mungkin kita akan memperoleh sesuatu sebagaimana adanya, padahal dia sendiri tidak pernah dipandag ada. Tentu, sesuatu yang tidak pernah dipandang ada tidak bisa diperoleh pengetahuan yang positif tentangya.[1]

Perbedaan pengakuan ontologis dari obyek ilmu ini, mempengaruhi cara pandang terhadap klasifikasi (pembagian) ilmu. Para ilmuan, pemikir, dan filosof ilmu barat, yang meragukan keberadaan/ status ontologis obyek non fisik atau metafisika. Membagi ilmu pengetahuannya menjadi dua macam, yakni fisik, dan sebagian secara misterius matematika. Hal ini mungkin memberikan sedikit, pelecut bagi mereka dalam mencurahkan pemikiranya pada obyek empiris fisik, baik dalam bidang fisika science, penelitian makro-mikro, biologi, ilmu kesehatan ataupun teori-teori sosial. Tetapi terdapat kekurangan pada masrayakat barat, kondisi demikian, hidup dalam materialisme dan industrialisasi berlebihan,  yang disebabkan oleh disintegrasi keilmuan[2], menjadikan mereka mengalami kekeringan spiritual, atau S. Hosei Nashr menyebutnya krisis manusia modern, atau dalam istilah lain, manusia satu dimensi.[3] Yang kesemua itu membutuhkan kembali kepada peran agama dalam kehidupan spiritual manusia, yang juga tentu mengafirmasi keberadaan status ontologis metafisika. Berikut alasan fenomenologisya.

Kalangan ilmuan dan filosof muslim, membagi ilmu secara lebih holistik, klasifikasi ilmu Islam, meliputi tidak hanya bidang fisik, dan matematika tetapi juga bidang metafisika. Maka keterkaitan variasi ontologis dan hasil klasfikasinya, secara jelas dapat diringkas pada tiga macam, sebagaimana pembagian ibn Sina terhadap wujud-wujud yang ada di alam ini:

  1. Wujud-wujud yang secara niscaya  tidak berhubungan dengan materi dan gerak.
  2. Wujud-wujud yang meskipun pada dirinya bersifat immateriil, terkadang mengadakan kontak dengan materi dan gerak
  3. Wujud-wujud yang secara niscaya terkait dengan materi dan gerak.[4]

a.        Ilmu Metafisika

Kelompok ilmu ini mempelajari entitas-entitas yang berada di balik alam fisik. Ibn Khaldun dalam kitabnya yang terkenal, Muqaddimah, membagi ilmu metafisika menjadi lima bagian :

  1. Bagian yang mempelajari wujud sebagai wujud, yang biasa disebut ontologi atau ilmu tentang wujud.
  2. Bagian yang mempelajari materi umum yang mempengaruhi benda-benda jasmani dan spiritual, seperti kuiditas, kesatuan, pluraritas dan kemungkinan.
  3. Bagian yang mempelajari asal-usul benda-benda yang ada dan menentukan apakah mereka itu adalah entitas spiritual atau bukan.
  4. Bagian yang mempelajari bagaimana cara benda-benda yang ada muncul dari entitas-entitas spiritual dan mempelajari susunan mereka.
  5. Bagian yang mempelajari keadaan jiwa setelah perpisahannya dengan badan dan kembalinya ia ke asal atau permulaanya.[5]

Dari yang telah dikemukakan Ibn Khaldun, kita mengerti bahwa metafisika meliputi bidang ontologi (poin 1 & 2), bidang kosmologi (3 & 4) dan eskatologi (poin 5). Ontologi tentu saja merupakan cabang metafisika yang sangat penting, yaitu cabang metafisika yang mempelajari wujud sebagai wujud, termasuk didalamnya pembicaraan tentang apakah yang paling prinsipil diantara wujud yang ada, esensi ataukah eksistensi. Pembicaraan wujud sebagai wujud ini penting dan telah melahirkan pikiran-pikiran terbaik para filosof muslim dan para mistikus sehingga terkenal dua madzhab pemikiran dalam filsafat, yakni kaum eksistensialis dan esensialis. Eksistensialis diwakili oleh Ibn Sina dan Mulla Shadra. Esensialis diwakili oleh Suhrawardi, Syams al-Din Syahrazuri, Qutb al-Din Syirazi, dan Mir Damad.[6]

Pastinya, filsafat wujud ini melibatkan Tuhan pembahasan utama sebagai prinsip dari segala yang ada. Status ontologis Tuhan sebagai sebab pertama dan wujud yang niscaya (wajib al-Wujud) tentu saja tidak bisa diragukan, karena meragukan status ontologis-sebab akan mengguncangkan sendi-sendi dan status ontologis alam sebagai akibatnya. Demikian juga sifatnya yang immateriil menjadikan Tuhan abadi, sedangkan alam sebagai akibatnya adalah fana, dalam arti tunduk pada generasi/kejadian (kaun) dan korupsi/kehancuran (fasad).[7]

Dalam hirarki pengkajian ontologi, Tuhan menempati kedudukan yang pertama. Semakin tinggi sebuah obyek kajian keilmuan maka akan semakin mulia dan penting juga pengkajiannya. Dengan kata lain, mengenal dan mengkaji ilmu tentang Tuhan akan membawa subyek pengkajinya kepada kebahagiaan dan ketentraman diri. Dari pengkajian tentang Tuhan ini muncul cabang ilmu metafisika, yang disebut ilm ilahi, atau Teologi.

Obyek berikutnya dalam pengkajian ontologi adalah malaikat. Banyak dari salah satu obyek ini. Tetapi intinya semuanya ingin menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah wujud immateril yang tidak terkait dengan materi dan gerak. Ibn Sina menyebutkan obyek kedua ini sebagai intelek (al-Aql), Suhrwardi dengan cahaya-cahaya (al-Anwar), dan para filosof muslim, menafsirkannya dari al-Quran dengan intelek-intelek/ malaikat-malaikat, (al-Uqul). Pembahasan mengenai akal dan malaikat ini, diperlukan menurut Ibn Khaldun untuk mempelajari “asal-usul benda yang ada dan mempelajari immaterilialitas mereka” serta ‘cara-cara benda yang ada (al-Maujudat) muncul dari benda-benda spiritual, dan tatanan hirarki mereka’. Atau yang kita sebut kosmologi.[8]

Pada kosmologi telah banyak filosof muslim yang mencurahkan dan memberikan prinsipnya berkenaan dengannya. Hal ini berkaitan erat dengan emanasi, yang teorinya terus mengalami perubahan penyempurnaan dari waktu ke waktu oleh para filosof. Emanasi menunjukan secara rasional  bagaimana wujud yang ada itu berhirarki dan benda-benda di dunia ini muncul dari Sebab Pertama, atau Tuhan setelah melalui serangkaian panjang makhluk immateriil, seperti malaikat, akal dan jiwa.[9]

Pembahasan terakhir pada kelas ontologi, adalah eskatologi. Pendefinisian bidang terakhir ini tentu mengasumsikan survival (kelestarian) jiwa setelah kematian, dan disitu tentunya tersirat keyakinan bahwa jiwa adalah immateriil. Beberapa filosof muslim membuktika hal ini, misalkan Ibn Miskawaih, dalam bukunya Tahdzibul Akhlak, mengatakan bahwa jiwa bukanlah sesuatu fisik. Karena, prinsip fisik menyatakan bahwa yang lebih besar tidak mungkin bisa masuk pada yang lebih kecil, tetapi jiwa mampu untuk menerima bentuk-bentuk yang tidak terbatas, dan berbentuk ukurannya. Karena itu, jiwa berada dan bukan fisik. Begitu juga pada Ibn Sina, ataupun pendahulunya Al-Amiri, mengatakan bahwa karena jiwa sepnuhnya dia bisa memikirkan bentuk-bentuk yang immateriil, maka jiwa pastinya juga immateriil.[10] Kehidupan atau kekalan jiwa setelah kematian, juga telah didukung dan dibuktikan oleh para filosof dan mistikus muslim. Ibn Bajjah dan Ibn Rusyd menyebutkan seluruh jiwa akan kembali kepada jiwa universal. Mulla Shadra mempercayai akan adanya kebangkitan fisik. Iqbal mengikuti Rumi, bahwa individualitas ego (jiwa manusia) akan bertemu dengan Sang Maha Ego (Tuhan). Bagi Rumi jiwa setelah kehidupannya di dunia, akan kembali kepad sang Kekasihnya, jiwa akan terus mencari setapak demi setapak, pada tingkatan alam akhirat, barzakh, malakut, sampai akhirnya bertemu dihadapn-Nya pada alam yang tidak bisa dibanyangkan akal. Hanya terbersit seperti menyalakan lilin di tengah terangnya cahaya matahari.[11]

b.      Ilmu Matematika

Matematika merupakan disiplin ilmu yang penting dari kajian ilmiah muslim, begitu pentingnya sehingga Al-Kindi pernah mengatakan bahwa matematika adalah bidang ilmu yang harus dikuasai oleh seseorang yang hendak mempelajari filsafat. Ia adalah semacam ilmu alat –selain logika-untuk memahami filsafat[12].

Selain itu, matematika status ontologisnya menurut para filosof muslim adalah riil adanya. Suhrawardi misalkan, berangkat dari kesamaan pembagian alam ide-ide Platonik, mengatakan bahwa matematika sama riilnya dengan malaikat dalam ide Plato. Maka, ide segitiga, segi empat, lingkaran dll adalah sama riil dan tidak diragukannya, seperti tidak diragukan malaikat dalam alam ide Plato.[13]

Matematika dalam pembagian Ibn Sina ini, menerangkan sifat ontologi wujud immateriil yang berkontak dengan wujud materiil. Pasalnya, meskipun matematika mempelajari wujud abstrak immateriil -segitiga, geometri, angka dll[14]- yang pada hakikatnya tidak ada bentuknya dalam alam fisik, tetapi matematika membutuhkan asosiasi lagi dengan alam fisik untuk memberinya makna. Misal, angka 3, bisa kita kaitkan dengan 3 apel, 3 rumah untuk bisa dijumlahkan 3 apel ditambah 5 apel menjadi 8 apel. Selain itu, matematika juga memiliki konsep metafisika, berupa ketertakhinggaan (∞), karena betapapun alam fisik pastilah memiliki batasnya, sehingga dalam matematika ‘sesuatu bisa dibagikan dan dikalikan dengan tak terhingga’.[15]

Ilmu-ilmu matematika, yang pada hakikatnya merupakan study tentang pengukuran, merupakan bidang kedua setelah metafisika, dan ia dibagi misalny oleh Ibn Khaldun (w.1402) kedalam 4 subdivisi:

i.            Geometri, mengkaji tentang kuantitas/ pengukuran-pengukuran secara umum yang bisa bersifat terputus karena terdiri dari angka-angka, atau berkesinambungan, seperti figur-figur geometris.

                              ii.            Aritmetika, yang mempelajari sifat-sifatesensial dan aksidental dari jumlah yang terputus yang disebut bilangan (number).

                            iii.            Musik, yang mempelajari proporsi suara dan bentuk-bentuk (modus) nya, dan pengukuran-pengukuran numerik, yang hasilnya adalah pengeahuan tentang melodi-melodi musik.

                             iv.            Astronomi, yang menetapkan bentuk-bentuk bola langit, menentukan posisi dan jumlah dari setiap planet dan bintang tetap, dan memungkinkan kita untuk mempelajari hal-hal tersebut dari gerak-gerak samawiyang bisa kita lihat dari benda-benda langit, presisi mereka, dan resesinya[16].

c.       Ilmu Fisika

Fisika adalah ilmu yang menyelidiki benda-benda fisik (bodies).dari sudut gerak atau diam. Ia mempelajari benda-benda langit dan substansi atau zat-zat elementer, seperti juga manusia, hewan, tumbuhan, dan mineral yang tercipta dari unsur-unsur dasar tersebut.

Ilmu-ilmu alam  ini tentu saja dibagi sesuai dengan jenis dan objek-objek alamiahnya. Kita tahu menurut Al-Faraby bahwa benda-benda alam ini, yang digambarkan sebagai “wujud-wujud yang secara niscaya berkaitan dengan meteri dan gerak”, terbagi kedalam lima macam: unsur-unsur, mineral, tumbuhan, hewan, dan manusia. Tiap-tiap bagian benda-benda alam ini tentu bisa dijadikan sebagai basis ontologis yang sah bagi cabang-cabang ilmu alam. Oleh karena itu, unsur-unsur elementer memerlukan cabang ilmu khusus yang mempelajarinya, misalnya kimia atau fisika materiil[17].

Selain mempelajari unsur-unsur dasar, mineral, tumbuhan, hewan, dan manusia, fisika juga mempelajari mata air dan gempa bumi (yang masuk pada bidang geologi) dan juga awan, gas, halilintar, kilat, dan badai yang ada diudara ( masuk pada kajian meteorologi), fisika juga mempelajari asal-usul gerak ada tubuh, yaitu jiwa dalam bentuk-bentuk yang berbeda, baik yang ada pada tumbuhan, hewan, dan manusia, dan ini dibahas dalam sebuah disiplin yang disebut psikologi (fi al nafs).[18]

Penutup  

Berfilsafat bisa dilakukan oleh setiap orang. Seseorang yang berfilsafat pada hakikatnya sedang mempelajari dirinya sendiri. Karena seseorang yang berfilsafat pada penghujung petualangannya dengan suatu tindakan berpikir yang menggunakan akal budi untuk mencari dan menemukan kebenaran hakiki. Tetapi kebenaran ini sangat bersifat relatif bergantung kapasitas ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Semakin kaya seseorang dengan ilmu dan pengalaman maka semakin luas pula ruang lingkup filsafat yang akan dia jangkau.

Demikian makalah yang dapat kami sampaiakan kurang lebihnya mohon dimaafkan, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, jika ada kesalahan mohon di ingatkan dan dibenarkan, sebagai perbaikan kami ke depan. Semoga apa yang tertera dalam makalah ini dapat membawa manfaat untuk kita semua dan bisa menambah wawasan kita semua.

Daftar Pustaka

    1. Kartanegara, Mulyadhi. 2003. Menyibak Tirai Kejahilan : Pengantar Epistemologi Islam. Bandung : Mizan.
    2. Kartanegara, Mulyadhi. 2005. Integrasi Ilmu : Sebuah Rekonstruksi Holistik. Bandung : Mizan & UIN Jakarta Press.

[1] Kartanegara, Mulyadhi. 2003. Menyibak Tirai Kejahilan : Pengantar Epistemologi Islam. Bandung : Mizan. Hal : 42

[2] Meminjam istilah P. Mulyadhi dalam bukunya Integrasi Ilmu

[3] Manusia satu dimensi adalah istilah yang dialamatkan bagi mereka yang hidup dalam lingkungan industrialisasi berlebihan, satu dimensi karena mereka hidup hanya memenuhi alam materinya semata, tanpa memperdulikan aspek ruhani spiritualnya. Yang berdampak pada cara pandang dan aspek sosialnya.

[4] Ibid. Hal : 43

[5] Kartanegara, Mulyadhi. 2005. Integrasi Ilmu : Sebuah Rekonstruksi Holistik. Bandung : Mizan & UIN Jakarta Press. Hal : 74-75

[6] Op. Cit. hal : 44-45

[7] Ibid. Hal : 45

[8] Ibid. Hal : 46

[9] Ibid.

[10] Op. Cit. Mulyadhi. Integrasi Ilmu. Hal : 82-83

[11] Ibid.hal : 83-84

[12] Ibid. Hal.87

[13] Op. Cit. Mulyadhi. Pengantar Epistemologi. Hal : 48

[14] Kita harus mengasosiasikan bahwa bentuk matematika sepenuhnya adalah simbol dalam alam fikiran, yang masih tidak ada bentuknya dalam alam fisik.

[15] Ibid. Hal : 47-48

[16] Op. Cit. Mulyadhi. Integrasi Ilmu. Hal. 88-93

[17] Op. Cit. Mulyadhi. Pengantar Epistemologi. Hal : 49

[18] Op.cit. hal : 93

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s