Kearifan dalam mendekati sejarah Islam

Petanyaan : bagaimana kita bisa mencari kebenaran dalam peristiwa sejarah?

Kearifan dalam mendekati Sejarah Islam.

“Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” QS: Fathir : 44.

Umat manusia tanpa dipungkiri tidak terlepas dari sejarah. Sejarah menjadi sebuah paradigma yang menjadi perdebatan, apakah sejarah ditulis oleh umat manusia ataukah umat manusia menjadi obyek yang penulisnya adalah sejarah. Al-Quran bahkan 2/3 nya berisi tentang pelajaran dari sejarah. Sejarah menurut Prof. Dr. Muhammad Anis adalah sebuah kejadian yang terjadi pada masa lampau yang memberikan implikasi pada masa sekarang dan yang akan datang. Dalam artian peristiwa tersebut merupakan peristiwa besar, dan tercatat menimbulkan sebuah perubahan. Jatuhnya pulpen dari meja yang terjadi kemarin, tidaklah tercatat menjadi sejarah, tetapi perubahan dari rezim monarki menuju teokrasi, melalui spirit seorang ulama lanjut usia yang mampu menggerakan berjuta-juta rakyat, ialah tercatat menjadi sejarah.

Syahid Murtadha Mutahhari sendiri, mendefiniskan sekaligus menjelaskan fungsi sejarah menjadi tiga jenis. : 1. Sejarah Tradisional (Tarikh Naqli), yakni pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan yang terjadi pada masa lampau, yang memiliki hubungan dengan masa kekinian. 2. Sejarah Ilmiah (Tarikh Ilmy), yakni pengetahuan yang membahas mengenai kejadian-kejadian serta keadaan-keadaan pada masa lampau, kemudian menganalisanya untuk mengetahui hukum yang mengatur pergerakan dibalik masyarakat tersebut. 3. Filsafat Sejarah. (Tarikh Falsafi), yakni pengetahuan dalam mengetahui hukum yang menguasai sebuah pergerakan masyarakat dari satu tahap ke tahap lain. Filsafat Sejarah mencoba untuk menganalisa secara setahap demi setahap terhadap hukum-hukum yang menyebabkan perubahan tersebut. dengan kata lain bidang ini membahas mengenai perubahan masyarakat untuk menjadi sebuah peradaban madani, bukan tentang mewujudnya saja.

M. Oakeshott, seorang yang beraliran empirisme ekstrimis, mengatakan tidak mungkin mempelajari kejadian yang terjadi pada masa lampau. Karena sebuah penelitian hanya mungkin dilakukan melalui direct observation (observasi secara langsung/ saat itu juga) layaknya penelitian secara scientific.

Ditilik dari fakta bahwa sejarah adalah peristiwa yang terjadi masa lampau maka pengkajian sejarah paling tidak dapat dilakukan dengan dua metode.: 1. Metode tekstualis. Metode ini menekankan pada catatan-catatan sumber saksi sejarah. Buku catatan para sejarawan merupakan sumber utamanya, teks dalam hal ini menjadi prasyaratnya karena bukti dari klaim sejarah, lebih memiliki kekuatan tertulis. 2. Metode analisis rasionalis. Metode ini menekankan pada pendekatan teks-teks yang dikaji ulang secara rasional.  Dalam konteks ini materi sejarah tidak hanya menjadi sebuah dongeng cerita belaka, melainkan pembaca mencoba menganalisa kausalitas dari suatu peristiwa sejarah, mengasumsikan motif dibalik tindakan para pelaku sejarah, dan juga mengambil sebuah ibrah yang bisa dijadikan pegangan untuk bertindak pada masa depan.

Lebih jauh, metode Hermeneutika, bisa menjadi rujukan berikutnya untuk menjawab kritik Oakeshott. Hermeneutika mencoba untuk menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain (seolah-olah terlibat dalm suatu perisitiwa). Dalam percakapan ataupun penafsiran teks, peneliti harus masuk ke dalam kulit lawan bicara atau pengarang sambil menimba dari pengalaman hidup sendiri. Tujuannya adalah (1) menjembatani jurang antara dua titik pangkal yang berbeda-beda, (2) berusaha mengerti pihak lain berdasakan pengalaman sendiri dan pengalaman mengenai kenyataan dalam keseluruhan, dan (3) terlebih bagi pengkaji sejarah, hermeneutika menempati tempat yang spesial dibanding teori lainya yaitu menghayati dari dalam jalan pikiran orang lain. Hal ini tidak hanya berguna untuk menafsirkan teks-teks atau maksud lawan bicara terlebih hermeneutika ingin mengerti mengapa seseorang berbuat begitu atau begini.

Secara sederhana syarat menjadi seorang pengkaji sejarah menurut Badri Yatim dapat dirumuskan menjadi tiga macam: 1. Haruslah  memiliki sumber-sumber sejarah yang memadai 2. Kompeten dalam memilih dan memilah sumber-sumber yang otentik 3. Cakap dalam menuangkan fakta-fakta sejarah ke dalam tulisan-tulisan yang sifatnya komunikatif, sistematis dan

Kuantitas sumber sejarah yang dimilki oleh seorang pengkaji, menunjukan kualitas pengkaji tersebut dalam mengkomparasikan catatan-catatan sejarah yang ada. Agaknya mengambil informasi hanya dari satu sumber, tanpa mempertimbangkan sumber lainya cenderung menimbulkan kesempitan dalam melahirkan sebuah kesimpulan dari suatu peristiwa sejarah. Namun, problemanya adalah banyak sumber-sumber sejarah bercerakan yang belum terjamahkan kembali.

Kecermatan berikutnya yang menjadi syarat penting dalam mengkaji sejarah adalah mengenal penulis buku sejarahnya dengan lebih baik, terutama mengetahui latar belakang dibalik penulisan buku tersebut.  Penulis yang jujur akan menulis dengan jujur pula, dan menghasilkan buku sumber sejarah yang bercerita sebagaimana faktanya, begitupun sebaliknya. Sehingga hal ini juga perlu mendapatkan perhatian secara urgen. Tradisi studi sejarah Islam telah memulai dengan menawarkan berbagai metode, seperti studi ilmu rijal, yang membahas autobiografi dari penulis sejarah, tradisi asbabul wurud, ilmu musthalah hadis, ilmu perawi dll.  Keahlian dalam menulis menambah khazanah dalam pengkajian sejarah tentunya. Dan membantu dalam memahami buku-buku secara produktif.

Sebagai sebuah catatan dalam memahami sejarah bahwasanya peradaban sejarah, tidak hanya terbangun berasal dari dukungan alam bendawi. Murtadha Mutahhari, sekali lagi, menerangkan sekaligus melontarkan penolakanya terhadap faham Marxis. Bahwa sejarah terdiri dari tiga aspek penting.:

Pertama, sifat sejarah.Marxisme berpendapat bahwa anggota masyarakat hanya terbangun dari materi, Seorang muslim, berargumentasi bahwa manusia sebagai bagian dari sejarah, selain terdiri dari alam materi juga memilki alam non-materi, dan supra materi, non bendawi/ materi adalah hakikat eksistensi manusia itu sendiri, dilihat secara kaca mata kemanusiaan, sedang supra bendawi/materi adalah yang lebih tinggi dari semua dan menjadi kekuatan diatas manusia.

kedua, hukum sejarah. Marxisme berpendapat bahwa sejarah menghukumi manusia secara determinisme, apa yang menimpa manusia adalah hukum alam yang sudah ketentuan. Tetapi Murtadha Mutahhari menolaknya melalui nash al-Quran, bahwasanya hukum yang berlaku di alam semesta tidaklah demikian, ringkasnya ada pada 3 bentuk: a. hukum kausalitas (sebab akibat) b. sunnah Allah, keterkaitan dan keterikatan antara manusia dan Tuhan, dalam tingkatan perbuatan, manusia tidak sepenuhnya bebas, juga tidak sepenuhnya terikat. c. al-bada’, pergantian dalam perbuatan manusia melalui ikhtiar nya, manusia yang mengganti daripada perbuatanya dan yang mempertanggung jawabkan akhirnya.

ketiga, gerak sejarah. Marxisme mengatakan manusia dan sejarah  digerakan oleh keinginan-keinginan bebasnya. Tetapi menurut Mutahhari, gerak sejarah dari suatu masyarakat sepertihalnya gerak kafilah yang terus berjalan tanpa berhenti, suatu masyarakat akan terus berusaha untuk membangun masyarakat yang sempurna sesuai dengan perkembangan zamanya, tidak mungkin untuk tetap jumud, tanpa muncul persoalan-persoalan baru dalam masyarakat yang membutuhkan jawaban. Artinya bukan berdasarkan keinginan bebas, tetapi lebih kepada kesadaran untuk membentuk masyarakat madani yang sempurna.

Suatu pendekatan yang dilakukan dalam membahas suatu tema dalam sejarah, akan menentukan bagaimana seorang penulis menyajikan sebuah pola pikir/ cara pandang prespektifnya terhadap sejarah tersebut. Pendekatan yang dilakukan akan mencerminkan sistematika pembahasan terhadap suatu tema dalam sejarah. Pendekatan dalam sejarah bisa bermacam-macam: pendekatan Antropologi, Semiotik, Hermeneutik, Arkeologi, Filologi, Fenomenologi atau metode-metode yang akan muncul belakangan.

Setelah mendapatkan sebuah gambaran mengenai paradigma pergerakan sejarah yang disebutkan tadi: metode, syarat, pendekatan. Diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam mengembangkan khazanah keilmuan Islam lebih luas lagi, dan tidak menutup kemungkinan hal tersebut bisa menjadi jawaban atas pernyataan dari Muhammad Qutb bahwa “sejarah Islam perlu untuk direkonstruksi kembali”, sehingga nantinya sejarah tidak lagi menjadi sebuah dogma yang diterima secara mentah, melainkan, sejarah sangat mungkin untuk mendapatkan wadah kritisasi dan pegkajian ulang secara lebih baik lagi. Dan yang menjadi pertanyaan inti sebenarnya adalah apa yang dikaji tidak sepatutnya hanya menjadi sebuah konsep, tetapi memang bisa hidup dan menjadi patokan setiap tindakan individu manusia. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s