Simbolisme dalam al-Quran dan seni rupa Islam

Simbol memainkan peran yang penting dalam kehidupan manusia. Simbol menciptakan sebuah kesepakatan antar anggota masyarakat terhadap sebuah arti yang menunjukan makna tertentu. Tanpa adanya simbol manusia tidak mungkin bisa untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, menyetujui atau menolak sesuatu dll. Simbol tentu saja, telah menyatu dalam setiap dimensi kehidupan manusia. Dimanapun manusia ingin berkomunikasi, kepada siapapun, kapanpun, menginterpretasikan sesuatu segalanya menggunakan simbol.

Agama tanpa disangsikan, juga telah menjadi satu dengan adanya simbol, dalam kaitanya berinteraksi dengan manusia. Islam sebagai sebuah agama samawi, dalam menyampaikan pesan-pesanya menggunakan bahasa manusia, yang secara makna hakiki telah terkandung dan berasal dari langit. Kumpulan  pesan tersebut termaktub lengkap dalam kitab suci al-Quran al-Karim. Yang keindahan didalamnya mencerminkan pernghargaan tertigginya terhadap seni.

Islam adalah agama yang mengajarkan kecintaan terhadap aspek-aspek kesenian. Karena seni adalah keindahan yang memukau, maka secara alami Tuhan telah menganugrahkan hal tersebut kepada manusia untuk dicintainya. Seni Islam telah juga menjadi sebuah jalan untuk mencapai kesadaran terhadap keagungan dan keindahan Allah SWT, dan juga menjadi pendukung dalam  membentuk aturan yang benar dalam berkehidupan sehari-hari. Seni Islam bisa terbagi menjadi berbagai macam, salah satunya adalah seni rupa, yakni cabang seni yang berupa karya pada bidang 2 dimensi, atau 3 dimensi. Kaligrafi, Arabes, Arsitektur misalkan contohnya.

Seni disatu sisi dan simbolisme di sisi lain, dengan demikian tidak dapat dipisahkan , layaknya dua mata uang logam, dua sisi tetapi terletak pada satu benda. Dalam makalah ini mencoba untuk mengulas sedikit mengenai simbolisme dalam al-Quran dan Seni Rupa Islam (Arsitektur).Pembahasan.

a.                  Simbolisme

Simbol umurnya sama tuanya dengan lahirnya peradaban umat manusia. Masyarakat manusia mencoba untuk sepakat menciptakan tanda-tanda/ arti-arti yang bisa mengkomunikasikan mereka dengan satu anggota dengan anggota lain. Berbicara mengenai seni juga berbicara mengenai simbol, karena dalam seni, inti dari apa yang ingin disampaikan juga menggunakan simbol-simbol.

R.M. Maclver, salah seorang sosiolog ternama mengungkapkan,

“Kesatuan sebuah kelompok, seperti semua nilai budayanya, pasti diungkapkan dengan memakai simbol …simbol sekaligus merupakan sebuah pusat perhatian yang tertentu, sebuah sarana komunikasi, dan landasan pemahaman bersama … setiap komunikasi, dengan bahasa atau sarana lain, menggunakan simbol-simbol. Masyarakat hampir tidak mungkin ada tanpa simbol-simbol.”[1]

Simbol bisa dikatakan menjadi inti dari bahasa, bahasa adalah representasi dari simbol, makna/ arti adalah yang terkandung dibalik simbol tersebut. Saat seseorang berfikir maka saat itu, sedang terjadi proses pengolahan simbol-simbol yang ada. Simbol dan simbolis dalam arah perkembanganya menjadi sangat penting kedudukanya, terutama dalam pengkajian filsafat, sosiologi, psikologi dan kesenian.

A.N. Whitehead, salah seorang filosof modern, dengan definisi mengenai simbolnya yang cukup terkenal adalah, :

“pikiran manusia berfungsi secara simbolis apabila beberapa komponen pengalamanya menggugah kesadaran, kepercayaan, perasaan, dan gambaran mengenai komponen-komponen lain pengalamanya. Perangkat komponen yang terdahulu adalah “simbol” dan perangkat komponen kemudian membentuk “makna” simbol. Keberfungsian organis yang menyebabkan adanya peralihan dari simbol kepada makna disebut referensi.” [2]

Simbol untuk mendefinisikanya, serasa terdapat banyak perbedaan. Namun diantara perbedaan tersebut dapat diambil kesepakatan bahwa simbol merupakan alat yang kuat untuk memperluas penglihatan kita, merangsang daya imaji kita, dan memperdalam pemahaman kita. Goethe menggambarakan simbol sebagai yang menggambarkan yang unversal, Coleridge simbol adalah yang berpartisipasi dalam realitas, Toynbee simbol adalah yang menyinari realitas, Brown simbol adalah yang menyelubungi ke-Tuhan-an. Masing-masing dari pola tersebut dapat disimpulkan, bahwa simbol dapat dipandang sebagai,:

  1. Sebuah kata atau barang atau obyek atau peristiwa atau tindakan atau pribadi atau hal yang konkret.
  2. Yang mewakili atau yang menggambarakan atau mengisyaratkan atau menandakan atau menyelubungi atau menyampaikan atau menggugah atau mengungkapkan atau merujuk kepada atau berdiri menggantikan atau mencorakan atau menunjukan atau berhubungan dengan atau bersesuaian dengan atau menerangi atau mengacu kepada atau mengambil bagian dalam atau menggelar kembali atau berkaitan dengan.
  3. Sesuatu yang lebih besar atau transenden atau tertinggi atau terakhir: sebuah makna, realitas, cita-cita, nilai, prestasi, kepercayaan, masyarakat, konsep, lembaga dan suatu keadaan.[3]

Dua bentuk simbolis yang digunakan oleh para cendekiawan pada abad pertengahan adalah analogi dan alegori. Analogi adalah metode yang digunakan untuk menafsirkan alam kodrat dan eksistensi manusia, dengan melihat bahwa alam dan eksistensi manusia telah diciptakan secara ilahi dan oleh karenanya mampu menunjuk kepada fikiran dan maksud Ilahi. Alegori adalah metode yang digunakan untuk teks-teks kitab suci, dengan melihat teks-teks itu sebagai selubung yang menyembunyikan kebenaran-kebenaran ilahi di bawahnya.[4]

Sifat dasar dan fungsi simbol. Sebuah pembeda yang senantiasa muncul, tetapi yang tidak tegas-jelas sepenuhnya, adalah pembedaan antara tanda dan simbol. Sign (tanda) dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa latin signum, tanda harus bersifat tidak ambigu (tidak mendua arti) definitf, sesuai sedekat-dekatnya dengan barang atau peristiwa khusus. Dalam konteks ini kata-kata dan gambar-gambar adalah tanda, yang digunakan dalam proses komunikasi manusia untuk menggambarkan setepat-tepatnya unsur-unsur yang termasuk dalam pengalaman umum bersama. [5]

Simbol, dalam bahasa Indoensia, berasal dari bahasa Yunani symbolon. Sebuah simbol dapat berfungsi untuk menggabungkan dan membangun sebuah keseluruhan yang organis (dapat dibandingkan dengan cara anggota-anggota yang tidak terhitung jumlahnya membentuk satu badan.). arti simbol itu dapat berfungsi untuk menggabungkan dengan cara yang mengherankan unsur-unsur pengalaman yang tampak tidak saling berkesuaian atau bahkan bertentangan. Dengan demikian, simbol berfungsi mengamati bergabungnya manusia dengan linkungan sosial, menggambarkan ikatan-ikatan mengherankan yang melahirkan hubungan-hubungan baru, fungsi kedua adalah mengamati pertumbuhan tetap dalam pengetahuan maupun loncatan-loncatan kreatif daya imajinasi. Mengamati proses-proses hidup, membandingkan unsur-unsur kesamaan, membangun “rantai-rantai pengada” dan jalinan-jalinan genetis yang menggambarkan gerak tetap menuju keseluruhan organis.[6]

b.                  Simbolisme dan al-Kitab

Simbol yang ada dalam kitab suci, khususnya al-Quran agaknya kebih condong menggambarakan arti simbol yang memiliki penafsiran tidak hanya tunggal. Al-Quran yang mencakup dalam berbagai segi dan dimensi manusia, yang menjadi rujukan dari setiap pertanyaan-pertanyaan muslim, meniscayakan dirinya menjadi sebuah kesempurnaan, maka kita bisa mengatakan al-Quran adalah ibarat mutiara bersinar yang sinarnya tetap bisa untuk dilihat dari sisi manapun juga. Simbol menjadi representasi dari setiap jawaban yang dicari oleh manusia tersebut.

Penjelasan mengenai simbol dalam al-quran, dapat kita temukan dalam Q.S. 17: 44.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Apa yang perlu untuk digaris bawahi adalah penggalan ayat yang terakhir, “tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”, ayat inilah yang secara berharaga menunujukan arti simbol. Ini bisa dibuktikan pada  hadis qudsi, “ aku adalah mutiara terpendam dan aku ingin untuk dikenal, maka aku menciptakan dunia.” . alam semesta ini hakikatnya diciptakan adalah untuk mengenal siapa penciptanya, dan untuk mengetahui siapa penciptanya harus berkomunikasi denganya, dalam hal ini adalah melalui tasbih, sedang arti dari membuatnya dikenal adalah dengan merefleksikanya atau menjadi bayangan darinya. Dan simbol adalah refleksi atau bayangan dari realitas yang lebih tinggi.[7] Maka tasbihlah menjadi jalan untuk mengenal-Nya, dan dari mengenal diri-Nya, menjadikan siapa yang mengenalya manifestasi dari diri-Nya. Alam semesta ciptaan Tuhan, adalah bayangan dari Marpenciptanya. Simbol dalam penjelasan ini, adalah sejalan dengan pendefinisan , Coleridge bahwa simbol adalah yang berpartisipasi dalam realitas, dan Toynbee yang mengatakan bahwa simbol adalah yang menyinari realitas.

Salah satu ide yang melatari teoritisasi tentang kultur Islam adalah slogan sufi, al-majaz qantarah al-haqiqah (majaz adalah jembatan kebenaran). Ajaran sufi tidak menganggap dunia biasa sebagai dunia ilusi dan dunia maya, sebaliknya menegaskan bahwa tidak ada yang tidak nyata dari dunia ini. Namun, dunia ini hendaknya tidak dianggap sebagai satu-satunya wujud yang ada karena ia hanyalah penunjuk akan keberadaan wujud alam lainyang lebih tinggi.[8] Dalam konteks ini, simbol memerankan peran sebagai perantara, majaz= jembatan, yang menghubungkan antara alam dunia dengan dunia yang lebih tinggi lagi, non materi.

Simbolisme dalam al-Quran sendiri juga berkaitan dengan bagaimana al-Quran berkehendak untuk berkomunikasi dengan umat manusia dengan menggunakan setiap padaan kata di dalamnya, karena al-Quran pasti memilih kata-kata yang terbaik bagi setiap pilihanya. Kata tersbut mengsyaratkan terhadap simbol/ pesan yang ada dibaliknya. Dan dari kata-kata tersebut ada yang memunculkan penafsiran secara muhkan dan ada juga mutasyabih.

Setiap benda yang disebutkan dalam al-Quran mampu memberikan pesan tersndiri, setiap kejadian yang disebutkan mampu memberikan pesan tersendiri, yang bisa diambil manfaatnya untuk setiap kehidupan manusia, setiap pribadi/ karakter mencerminkan rambu untuk tidak atau malah harus berbat demikian begitu seterusnya, intinya simbol menjadi represntasi dari kata yang ada dalam al-Quran itu sendiri.

Misalkan, ketika Allah menyebutkan cerita antara Musa dan Firaun, Allah hendak menyimbolkan disitu bahwa seharusnya manusia, harus berbuat sebagaimana Musa dan janganlah berbuat seperi Firaun. Musa menjadi simbol representasi kebaikan dan Firaun sebaliknya.

Misalkan ketika Allah menceritakan tentang lebah, Allah berkehendak memberikan contoh kepada umat manusia seluruhnya, ataupun muslim khususnya, agar mencontoh simbol lebah, lebah adalah yang memberikan manfaat sangat banyak bagi muslim yang lainya. Lebah apa yang dia kerjakan menghasilkan madu, yang menjadi obat bagi yang lian, lebah tidak hinggap keculai pada yang indah-indah, lebah adalah contoh sangat kuat dalam persaudaraan, berkoloni, berbangsa, lebah racunya pun bisa menjadi obat. Allah SWT sekali lagi menunjukan peran simbol didalamnya. Simbol tersebut tidak hanya mencakup pada satu aspek saja, melainkan terdiri dari berbagai aspek yang ada.

Seni dalam simbol al-Quran juga terlihat pada bentuk-bentuk ornamen-ornamen yang terletak di samping kiri-kanan ayat. Seni bertalian dengan simbol-simbol keindahan tersebut.

Simbolisme dan Arsitektur

Islam telah sejak lama memiliki hubungan yang erat dengan arsitektur. Namun ada pandangan umum yang diajukan oleh para orientalis bahwa Islam tidak memiliki hubunga dengan arsitektur. Pandangan keliru ini mungkin bisa dikarenakan: pendapat mereka, mengatakan bahwa Islam hanya berhubugan dengan sisi peribadatan saja. Kelompok sekuler ini menganggap bahwa Islam  tidak dapat menentukan hubungan dengan dunia luar, selain dunia religi (ibadat dan hubungan pribadi dengan Tuhan.) karena mereka memisahkan antara kehidupan religius dengan kehidupan sekuler. Sepert halnya pembagian tradisional kristen yang memisahkan kerajaan Tuhan dan Kaisar, sehigga terjadi pemisahan antara kehidupan gereja dan negara. Orientalis sejatinya tahu bahwa Islam adalah lengkap dan meliputi seluruh kehidupan, untuk itu terlihat usaha sengaja untuk melemahkan kekuatan hukum Islam. [9]

awal mula arsitektur muncul adalah untuk memberikan fungsi bangunan pada manusia. Sejak manusia keluar dari gua dan  belukar, dan mulai membangun tempat tinggal bagi dirinya, arsitektur telah memperlihatkan aktivitas yang seolah melebihi kegunaan dan fungsinya. Tatkala dimensi keindahan estetis ikut melengkapi, soal kegiatan konstruksi menjadi pandangan dunia bagi pendiri bangunan. mereka beranjak dari tujuan pokok pembuatan bangunan – yaitu dari tempat berlindung keamanan, dan kenyamanan. Arsitektur berusaha menjelmakan tujuan-tujuan itu ke dalam ekspresi artistik. Memang tujuan fungsi masih tetap ada, meskipun bagunan tersebut dibuat dengan ekspressi artistik.[10]

hubungan antara bangunan sebagai fungsi di satu sisi dengan eksterior atau estetis dari bangunan yang dilihat dari luar itu sendiri, memberikan pandangan yang menarik untuk dikaji. Simbol sebagai sebuah pesan yang tersimpan didalamnya adakah menunjukan eksistensinya ketika misalkan sebuah bangunan menunjukan gaya berbeda tetapi memilki fungsi yang sama. Misalkan : bolehkah membangun masjid dengan gaya yang tidak seperti umumnya,? Misalkan membuat bangunan masjid yang bergaya candi, ruang terbuka? Karena apabila dilihat filosofi simboliknya adalah hampir sama yakni ruang terbuka, menunjukan penyatuan dengan alam, cinta dengan alam yang hampir sama ditunjukan juga oleh Islam, dan hal tersebut tidak menghilangkan fungsi dari bangunan itu sendiri sebagai tempat ibadah.

jawabanya ialah, secara struktur atau bahan bangunan umat muslim, boleh untuk memilih secara bebas apa yang ingin untuk dipilih sebagai bahan dari bangunanya, tetapi dalam segi fungsi ataupun gaya dalam membentuk bangunan, masing-masing memiliki fungsi dan spirit yang berbeda-beda. Kata kunciya terletak pada spirit yang memancar di dalamnya, mengapa misalkan bangunan gereja cenderung untuk memanjang sementara, bangunan masjid cenderung untuk melebar, mengapa gereja bebas untuk menentukan arah bangunan, sementara masjid wajb untuk mengarah  pada satu arah yang sama. bentuk ataupun arah tersebut dikarenakan fungsi yang berbeda dari masing-masing bangunan itu sendiri. Gereja dibuat memanjang karena banyak didalamya ditaruh patung-patung, dan tidak memiliki arah kiblat yang sama. Tetapi masjid dibuat melebar agar masing-masing peribadah bisauntuk mendekat, atau menekankan posisi di depan, semakin  banyak yang berada di baris depan, masjid juga dibuat mengarah ke kiblat, karena disana lah poros semangat persatuan umat muslim berada. Artinya bentuk dan segi bangunan mengkuti dari simbol/ pesan yang hendak disampaikan oleh bangunan itu sendiri.

Masjid adalah ciri khas dari arsitektur Islam. Masjid dahulu selain berfungsi sebagai tempat beribadah juga berfungsi untuk gerakan perkembangan dakwah umat, berupa pendidikan, politik, dll. Simbol dari filosofi Islam benar-benar terlihat dalam bentuk bangunan masjid. Di titik inilah seni memiliki keterkaitan yang sangat dalam dengan adanya simbol, karena simbol merepresentasikan filosofi dari bangunan itu sendiri. Masjid yang bangunanya berbentuk kubah kerucut menunjukan ajaran Islam kepada tauhid, yang berasal dari jamak menuju yng satu, bangunan tangga pada fondasi masjid menunjukan tahapan-tahapan kehidupan umat manusia yang akan dilalui.

Bentuk bangunan-bangunan yang hadir kemudian misalkan ketika, masjid tersebar pada daerah yang beraneka ragam, dan mulai berkontak dengan geologi budaya sekitar, memunculkan bangunan-bangunan masjid dengan gaya yang baru. Gaya masjid yang berada di Arab misalkan berbeda degan gaya masjid yang ada di Turki, masjid yang berada di Persia misalkan berbeda dengan masjid yang berada di Jawa. Masjid di jawa banyak meakuka enkulturasi dengan budaya lokal sehingga melahirkan gaya masjid yang bercorak kebudayaan hindu-budha, dengan atap yang berlapis-lapis, adanya bedug, hiasan-hiasan yang ada dikiri kanan, kolam, dll, segi bahan dasar bangunan dl. Dan kesemuanya itu berbeda dengan masjid yang ada di wilayah persia. Menunjukan bahwa kesenian Islam bersifat universal dan tidak hanya tertutup pada satu wilayah, Islam mampu untuk masuk pada berbagai dimensi, tanpa harus meninggalkan inti dari ajaran sendiri.

Bagian interior, yang menjadi penekanan dalam kesenian arsitektur Islam. Karena apabila kita melihat hiasan-hiasan yang sangat ditonjolkan pada bangunan masjid-masjid adalah terletak pada bagian dalam, lafadz kaligrafi-kaligrafi ayat-ayat suci al-Quran, mihrab, tempat beribadah, hampir semua penekanannya terletak dibagian dalam. hal ini sama dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa yang menjadi substansi manusia bukanlah yang terletak pada bagia luar tetapi apa yang ada pada bagian dalam dan hal ini adalah sisi bathin dari manusia itu sendiri, oleh karena itu mengapa kita mengenal bahwa arsitektur Islam itu adalah arsitektur yang tersembunyi.

Alasan kedua yang mendukung arsitektur Islam disebut dengan arsitektur tersembunyi adalah karena fungsi ruang kosong yang ada pada bagian dalam ruangan. Kekosongan yang dalam hal ini adalah kekosongan masa dan tempat, meunujukan filosofi dari kehadiran Tuhan itu sendiri, karena kosong berarti berisi, berisi berarti kosong, sesuatu yang telah terisi tidak mungkin bisa untuk diisi lagi, tapi hanya ketika kosong maka bisa untuk diisi, maksudnya adalah ajaran bahwa apabila manusia ingin bisa merasakan kehadiran “jamah tangan Tuhan” dalam dirinya , maka dia harus mengosongkan dulu dirinya dari segala macam ikatan, dan jeratan-jeratan hawa nafsu, ketika dirinya telah benar-benar kosong dari setiap ajakan, dan hawa nafsu, maka saat itulah dia bisa untuk meminta fatwa pada ketenangan dirinya, dan insya’Allah menjadikan “jamah tangan Tuhan” dekat denganya.

Kesimpulan

Simbol dan kesenian Islam tidak bisa dipisahkan. Simbol menjadi bahasa bagi kesenian Islam untuk menyampaikan pesan-pesan yang dikandungya. Simbol memiliki pnegertian yang beragam, tetapi paling tidak, simbol bisa dirngkas menjadi tiga kriteris,: a. Berupa yang konkret baik segi materi ataupun non materi b. Yang merpresentasikan atau yang dikandung dibaliknya c. Berasal dari sesuatu yang Transenden, dan Terakhir. Simbol memiliki kaitan dengan al-Quran dalam memberikan permisalan untuk berkomunikasi dengan umat manusia. Al-Quran yang menjadi gudang ilmu serta jawaban dari setiap permasalahan, menyampaikan jawaban yang yang mampu ditafsirkan secara beraneka melalui simbol-simbol yang ada didalamnya. simbol bertalian dengan arsitektur berfungsi sebagai inti dari ajaran seni, bahwa seni adalah simbol, dan simbol menunjukan bangunan filosofis tertentu yang hendak disampaikan. Gaya bangunan tertentu menyimbolkan filosofi tertentu.


[1] R.M. Maclver. 1950. Society.

[2] A.N. Whitehead. 1928. Symbolism.

[3] F.W. Dillistone. 1986. The Power of Symbol. Pent. Kanisius. 2002. Yogyakarta.: 20

[4] Ibid. hal.: 82

[5] Ibid. Hal. : 223

[6] Ibid. Hal.: 224-225

[7] Martin Lings. 2000. Symbol and Archetype. Suhal Academy. Pakistan.: 1

[8] Leaman, Oliver. 2005. Estetika Islam. Mizan. Bandung. : 97-98

[9] Ismail Raji al-Faruqi dalam himp. M. Abdul Jabbar Beg. 1988. Seni di dalam Peradaban Islam. Pustaka. Bandung.: 97-98

[10] Ibid.

  1. Pendahuluan

Simbol memainkan peran yang penting dalam kehidupan manusia. Simbol menciptakan sebuah kesepakatan antar anggota masyarakat terhadap sebuah arti yang menunjukan makna tertentu. Tanpa adanya simbol manusia tidak mungkin bisa untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, menyetujui atau menolak sesuatu dll. Simbol tentu saja, telah menyatu dalam setiap dimensi kehidupan manusia. Dimanapun manusia ingin berkomunikasi, kepada siapapun, kapanpun, menginterpretasikan sesuatu segalanya menggunakan simbol.

Agama tanpa disangsikan, juga telah menjadi satu dengan adanya simbol, dalam kaitanya berinteraksi dengan manusia. Islam sebagai sebuah agama samawi, dalam menyampaikan pesan-pesanya menggunakan bahasa manusia, yang secara makna hakiki telah terkandung dan berasal dari langit. Kumpulan  pesan tersebut termaktub lengkap dalam kitab suci al-Quran al-Karim. Yang keindahan didalamnya mencerminkan pernghargaan tertigginya terhadap seni.

Islam adalah agama yang mengajarkan kecintaan terhadap aspek-aspek kesenian. Karena seni adalah keindahan yang memukau, maka secara alami Tuhan telah menganugrahkan hal tersebut kepada manusia untuk dicintainya. Seni Islam telah juga menjadi sebuah jalan untuk mencapai kesadaran terhadap keagungan dan keindahan Allah SWT, dan juga menjadi pendukung dalam  membentuk aturan yang benar dalam berkehidupan sehari-hari. Seni Islam bisa terbagi menjadi berbagai macam, salah satunya adalah seni rupa, yakni cabang seni yang berupa karya pada bidang 2 dimensi, atau 3 dimensi. Kaligrafi, Arabes, Arsitektur misalkan contohnya.

Seni disatu sisi dan simbolisme di sisi lain, dengan demikian tidak dapat dipisahkan , layaknya dua mata uang logam, dua sisi tetapi terletak pada satu benda. Dalam makalah ini mencoba untuk mengulas sedikit mengenai simbolisme dalam al-Quran dan Seni Rupa Islam (Arsitektur).

  1. II.     Pembahasan.
    1. a.                  Simbolisme

Simbol umurnya sama tuanya dengan lahirnya peradaban umat manusia. Masyarakat manusia mencoba untuk sepakat menciptakan tanda-tanda/ arti-arti yang bisa mengkomunikasikan mereka dengan satu anggota dengan anggota lain. Berbicara mengenai seni juga berbicara mengenai simbol, karena dalam seni, inti dari apa yang ingin disampaikan juga menggunakan simbol-simbol.

R.M. Maclver, salah seorang sosiolog ternama mengungkapkan,

“Kesatuan sebuah kelompok, seperti semua nilai budayanya, pasti diungkapkan dengan memakai simbol …simbol sekaligus merupakan sebuah pusat perhatian yang tertentu, sebuah sarana komunikasi, dan landasan pemahaman bersama … setiap komunikasi, dengan bahasa atau sarana lain, menggunakan simbol-simbol. Masyarakat hampir tidak mungkin ada tanpa simbol-simbol.”[1]

Simbol bisa dikatakan menjadi inti dari bahasa, bahasa adalah representasi dari simbol, makna/ arti adalah yang terkandung dibalik simbol tersebut. Saat seseorang berfikir maka saat itu, sedang terjadi proses pengolahan simbol-simbol yang ada. Simbol dan simbolis dalam arah perkembanganya menjadi sangat penting kedudukanya, terutama dalam pengkajian filsafat, sosiologi, psikologi dan kesenian.

A.N. Whitehead, salah seorang filosof modern, dengan definisi mengenai simbolnya yang cukup terkenal adalah, :

“pikiran manusia berfungsi secara simbolis apabila beberapa komponen pengalamanya menggugah kesadaran, kepercayaan, perasaan, dan gambaran mengenai komponen-komponen lain pengalamanya. Perangkat komponen yang terdahulu adalah “simbol” dan perangkat komponen kemudian membentuk “makna” simbol. Keberfungsian organis yang menyebabkan adanya peralihan dari simbol kepada makna disebut referensi.” [2]

Simbol untuk mendefinisikanya, serasa terdapat banyak perbedaan. Namun diantara perbedaan tersebut dapat diambil kesepakatan bahwa simbol merupakan alat yang kuat untuk memperluas penglihatan kita, merangsang daya imaji kita, dan memperdalam pemahaman kita. Goethe menggambarakan simbol sebagai yang menggambarkan yang unversal, Coleridge simbol adalah yang berpartisipasi dalam realitas, Toynbee simbol adalah yang menyinari realitas, Brown simbol adalah yang menyelubungi ke-Tuhan-an. Masing-masing dari pola tersebut dapat disimpulkan, bahwa simbol dapat dipandang sebagai,:

  1. Sebuah kata atau barang atau obyek atau peristiwa atau tindakan atau pribadi atau hal yang konkret.
  2. Yang mewakili atau yang menggambarakan atau mengisyaratkan atau menandakan atau menyelubungi atau menyampaikan atau menggugah atau mengungkapkan atau merujuk kepada atau berdiri menggantikan atau mencorakan atau menunjukan atau berhubungan dengan atau bersesuaian dengan atau menerangi atau mengacu kepada atau mengambil bagian dalam atau menggelar kembali atau berkaitan dengan.
  3. Sesuatu yang lebih besar atau transenden atau tertinggi atau terakhir: sebuah makna, realitas, cita-cita, nilai, prestasi, kepercayaan, masyarakat, konsep, lembaga dan suatu keadaan.[3]

Dua bentuk simbolis yang digunakan oleh para cendekiawan pada abad pertengahan adalah analogi dan alegori. Analogi adalah metode yang digunakan untuk menafsirkan alam kodrat dan eksistensi manusia, dengan melihat bahwa alam dan eksistensi manusia telah diciptakan secara ilahi dan oleh karenanya mampu menunjuk kepada fikiran dan maksud Ilahi. Alegori adalah metode yang digunakan untuk teks-teks kitab suci, dengan melihat teks-teks itu sebagai selubung yang menyembunyikan kebenaran-kebenaran ilahi di bawahnya.[4]

Sifat dasar dan fungsi simbol. Sebuah pembeda yang senantiasa muncul, tetapi yang tidak tegas-jelas sepenuhnya, adalah pembedaan antara tanda dan simbol. Sign (tanda) dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa latin signum, tanda harus bersifat tidak ambigu (tidak mendua arti) definitf, sesuai sedekat-dekatnya dengan barang atau peristiwa khusus. Dalam konteks ini kata-kata dan gambar-gambar adalah tanda, yang digunakan dalam proses komunikasi manusia untuk menggambarkan setepat-tepatnya unsur-unsur yang termasuk dalam pengalaman umum bersama. [5]

Simbol, dalam bahasa Indoensia, berasal dari bahasa Yunani symbolon. Sebuah simbol dapat berfungsi untuk menggabungkan dan membangun sebuah keseluruhan yang organis (dapat dibandingkan dengan cara anggota-anggota yang tidak terhitung jumlahnya membentuk satu badan.). arti simbol itu dapat berfungsi untuk menggabungkan dengan cara yang mengherankan unsur-unsur pengalaman yang tampak tidak saling berkesuaian atau bahkan bertentangan. Dengan demikian, simbol berfungsi mengamati bergabungnya manusia dengan linkungan sosial, menggambarkan ikatan-ikatan mengherankan yang melahirkan hubungan-hubungan baru, fungsi kedua adalah mengamati pertumbuhan tetap dalam pengetahuan maupun loncatan-loncatan kreatif daya imajinasi. Mengamati proses-proses hidup, membandingkan unsur-unsur kesamaan, membangun “rantai-rantai pengada” dan jalinan-jalinan genetis yang menggambarkan gerak tetap menuju keseluruhan organis.[6]

  1. b.                  Simbolisme dan al-Kitab

Simbol yang ada dalam kitab suci, khususnya al-Quran agaknya kebih condong menggambarakan arti simbol yang memiliki penafsiran tidak hanya tunggal. Al-Quran yang mencakup dalam berbagai segi dan dimensi manusia, yang menjadi rujukan dari setiap pertanyaan-pertanyaan muslim, meniscayakan dirinya menjadi sebuah kesempurnaan, maka kita bisa mengatakan al-Quran adalah ibarat mutiara bersinar yang sinarnya tetap bisa untuk dilihat dari sisi manapun juga. Simbol menjadi representasi dari setiap jawaban yang dicari oleh manusia tersebut.

Penjelasan mengenai simbol dalam al-quran, dapat kita temukan dalam Q.S. 17: 44.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Apa yang perlu untuk digaris bawahi adalah penggalan ayat yang terakhir, “tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.”, ayat inilah yang secara berharaga menunujukan arti simbol. Ini bisa dibuktikan pada  hadis qudsi, “ aku adalah mutiara terpendam dan aku ingin untuk dikenal, maka aku menciptakan dunia.” . alam semesta ini hakikatnya diciptakan adalah untuk mengenal siapa penciptanya, dan untuk mengetahui siapa penciptanya harus berkomunikasi denganya, dalam hal ini adalah melalui tasbih, sedang arti dari membuatnya dikenal adalah dengan merefleksikanya atau menjadi bayangan darinya. Dan simbol adalah refleksi atau bayangan dari realitas yang lebih tinggi.[7] Maka tasbihlah menjadi jalan untuk mengenal-Nya, dan dari mengenal diri-Nya, menjadikan siapa yang mengenalya manifestasi dari diri-Nya. Alam semesta ciptaan Tuhan, adalah bayangan dari Marpenciptanya. Simbol dalam penjelasan ini, adalah sejalan dengan pendefinisan , Coleridge bahwa simbol adalah yang berpartisipasi dalam realitas, dan Toynbee yang mengatakan bahwa simbol adalah yang menyinari realitas.

Salah satu ide yang melatari teoritisasi tentang kultur Islam adalah slogan sufi, al-majaz qantarah al-haqiqah (majaz adalah jembatan kebenaran). Ajaran sufi tidak menganggap dunia biasa sebagai dunia ilusi dan dunia maya, sebaliknya menegaskan bahwa tidak ada yang tidak nyata dari dunia ini. Namun, dunia ini hendaknya tidak dianggap sebagai satu-satunya wujud yang ada karena ia hanyalah penunjuk akan keberadaan wujud alam lainyang lebih tinggi.[8] Dalam konteks ini, simbol memerankan peran sebagai perantara, majaz= jembatan, yang menghubungkan antara alam dunia dengan dunia yang lebih tinggi lagi, non materi.

Simbolisme dalam al-Quran sendiri juga berkaitan dengan bagaimana al-Quran berkehendak untuk berkomunikasi dengan umat manusia dengan menggunakan setiap padaan kata di dalamnya, karena al-Quran pasti memilih kata-kata yang terbaik bagi setiap pilihanya. Kata tersbut mengsyaratkan terhadap simbol/ pesan yang ada dibaliknya. Dan dari kata-kata tersebut ada yang memunculkan penafsiran secara muhkan dan ada juga mutasyabih.

Setiap benda yang disebutkan dalam al-Quran mampu memberikan pesan tersndiri, setiap kejadian yang disebutkan mampu memberikan pesan tersendiri, yang bisa diambil manfaatnya untuk setiap kehidupan manusia, setiap pribadi/ karakter mencerminkan rambu untuk tidak atau malah harus berbat demikian begitu seterusnya, intinya simbol menjadi represntasi dari kata yang ada dalam al-Quran itu sendiri.

Misalkan, ketika Allah menyebutkan cerita antara Musa dan Firaun, Allah hendak menyimbolkan disitu bahwa seharusnya manusia, harus berbuat sebagaimana Musa dan janganlah berbuat seperi Firaun. Musa menjadi simbol representasi kebaikan dan Firaun sebaliknya.

Misalkan ketika Allah menceritakan tentang lebah, Allah berkehendak memberikan contoh kepada umat manusia seluruhnya, ataupun muslim khususnya, agar mencontoh simbol lebah, lebah adalah yang memberikan manfaat sangat banyak bagi muslim yang lainya. Lebah apa yang dia kerjakan menghasilkan madu, yang menjadi obat bagi yang lian, lebah tidak hinggap keculai pada yang indah-indah, lebah adalah contoh sangat kuat dalam persaudaraan, berkoloni, berbangsa, lebah racunya pun bisa menjadi obat. Allah SWT sekali lagi menunjukan peran simbol didalamnya. Simbol tersebut tidak hanya mencakup pada satu aspek saja, melainkan terdiri dari berbagai aspek yang ada.

Seni dalam simbol al-Quran juga terlihat pada bentuk-bentuk ornamen-ornamen yang terletak di samping kiri-kanan ayat. Seni bertalian dengan simbol-simbol keindahan tersebut.

Simbolisme dan Arsitektur

Islam telah sejak lama memiliki hubungan yang erat dengan arsitektur. Namun ada pandangan umum yang diajukan oleh para orientalis bahwa Islam tidak memiliki hubunga dengan arsitektur. Pandangan keliru ini mungkin bisa dikarenakan: pendapat mereka, mengatakan bahwa Islam hanya berhubugan dengan sisi peribadatan saja. Kelompok sekuler ini menganggap bahwa Islam  tidak dapat menentukan hubungan dengan dunia luar, selain dunia religi (ibadat dan hubungan pribadi dengan Tuhan.) karena mereka memisahkan antara kehidupan religius dengan kehidupan sekuler. Sepert halnya pembagian tradisional kristen yang memisahkan kerajaan Tuhan dan Kaisar, sehigga terjadi pemisahan antara kehidupan gereja dan negara. Orientalis sejatinya tahu bahwa Islam adalah lengkap dan meliputi seluruh kehidupan, untuk itu terlihat usaha sengaja untuk melemahkan kekuatan hukum Islam. [9]

awal mula arsitektur muncul adalah untuk memberikan fungsi bangunan pada manusia. Sejak manusia keluar dari gua dan  belukar, dan mulai membangun tempat tinggal bagi dirinya, arsitektur telah memperlihatkan aktivitas yang seolah melebihi kegunaan dan fungsinya. Tatkala dimensi keindahan estetis ikut melengkapi, soal kegiatan konstruksi menjadi pandangan dunia bagi pendiri bangunan. mereka beranjak dari tujuan pokok pembuatan bangunan – yaitu dari tempat berlindung keamanan, dan kenyamanan. Arsitektur berusaha menjelmakan tujuan-tujuan itu ke dalam ekspresi artistik. Memang tujuan fungsi masih tetap ada, meskipun bagunan tersebut dibuat dengan ekspressi artistik.[10]

hubungan antara bangunan sebagai fungsi di satu sisi dengan eksterior atau estetis dari bangunan yang dilihat dari luar itu sendiri, memberikan pandangan yang menarik untuk dikaji. Simbol sebagai sebuah pesan yang tersimpan didalamnya adakah menunjukan eksistensinya ketika misalkan sebuah bangunan menunjukan gaya berbeda tetapi memilki fungsi yang sama. Misalkan : bolehkah membangun masjid dengan gaya yang tidak seperti umumnya,? Misalkan membuat bangunan masjid yang bergaya candi, ruang terbuka? Karena apabila dilihat filosofi simboliknya adalah hampir sama yakni ruang terbuka, menunjukan penyatuan dengan alam, cinta dengan alam yang hampir sama ditunjukan juga oleh Islam, dan hal tersebut tidak menghilangkan fungsi dari bangunan itu sendiri sebagai tempat ibadah.

jawabanya ialah, secara struktur atau bahan bangunan umat muslim, boleh untuk memilih secara bebas apa yang ingin untuk dipilih sebagai bahan dari bangunanya, tetapi dalam segi fungsi ataupun gaya dalam membentuk bangunan, masing-masing memiliki fungsi dan spirit yang berbeda-beda. Kata kunciya terletak pada spirit yang memancar di dalamnya, mengapa misalkan bangunan gereja cenderung untuk memanjang sementara, bangunan masjid cenderung untuk melebar, mengapa gereja bebas untuk menentukan arah bangunan, sementara masjid wajb untuk mengarah  pada satu arah yang sama. bentuk ataupun arah tersebut dikarenakan fungsi yang berbeda dari masing-masing bangunan itu sendiri. Gereja dibuat memanjang karena banyak didalamya ditaruh patung-patung, dan tidak memiliki arah kiblat yang sama. Tetapi masjid dibuat melebar agar masing-masing peribadah bisauntuk mendekat, atau menekankan posisi di depan, semakin  banyak yang berada di baris depan, masjid juga dibuat mengarah ke kiblat, karena disana lah poros semangat persatuan umat muslim berada. Artinya bentuk dan segi bangunan mengkuti dari simbol/ pesan yang hendak disampaikan oleh bangunan itu sendiri.

Masjid adalah ciri khas dari arsitektur Islam. Masjid dahulu selain berfungsi sebagai tempat beribadah juga berfungsi untuk gerakan perkembangan dakwah umat, berupa pendidikan, politik, dll. Simbol dari filosofi Islam benar-benar terlihat dalam bentuk bangunan masjid. Di titik inilah seni memiliki keterkaitan yang sangat dalam dengan adanya simbol, karena simbol merepresentasikan filosofi dari bangunan itu sendiri. Masjid yang bangunanya berbentuk kubah kerucut menunjukan ajaran Islam kepada tauhid, yang berasal dari jamak menuju yng satu, bangunan tangga pada fondasi masjid menunjukan tahapan-tahapan kehidupan umat manusia yang akan dilalui.

Bentuk bangunan-bangunan yang hadir kemudian misalkan ketika, masjid tersebar pada daerah yang beraneka ragam, dan mulai berkontak dengan geologi budaya sekitar, memunculkan bangunan-bangunan masjid dengan gaya yang baru. Gaya masjid yang berada di Arab misalkan berbeda degan gaya masjid yang ada di Turki, masjid yang berada di Persia misalkan berbeda dengan masjid yang berada di Jawa. Masjid di jawa banyak meakuka enkulturasi dengan budaya lokal sehingga melahirkan gaya masjid yang bercorak kebudayaan hindu-budha, dengan atap yang berlapis-lapis, adanya bedug, hiasan-hiasan yang ada dikiri kanan, kolam, dll, segi bahan dasar bangunan dl. Dan kesemuanya itu berbeda dengan masjid yang ada di wilayah persia. Menunjukan bahwa kesenian Islam bersifat universal dan tidak hanya tertutup pada satu wilayah, Islam mampu untuk masuk pada berbagai dimensi, tanpa harus meninggalkan inti dari ajaran sendiri.

Bagian interior, yang menjadi penekanan dalam kesenian arsitektur Islam. Karena apabila kita melihat hiasan-hiasan yang sangat ditonjolkan pada bangunan masjid-masjid adalah terletak pada bagian dalam, lafadz kaligrafi-kaligrafi ayat-ayat suci al-Quran, mihrab, tempat beribadah, hampir semua penekanannya terletak dibagian dalam. hal ini sama dengan ajaran Islam yang mengatakan bahwa yang menjadi substansi manusia bukanlah yang terletak pada bagia luar tetapi apa yang ada pada bagian dalam dan hal ini adalah sisi bathin dari manusia itu sendiri, oleh karena itu mengapa kita mengenal bahwa arsitektur Islam itu adalah arsitektur yang tersembunyi.

Alasan kedua yang mendukung arsitektur Islam disebut dengan arsitektur tersembunyi adalah karena fungsi ruang kosong yang ada pada bagian dalam ruangan. Kekosongan yang dalam hal ini adalah kekosongan masa dan tempat, meunujukan filosofi dari kehadiran Tuhan itu sendiri, karena kosong berarti berisi, berisi berarti kosong, sesuatu yang telah terisi tidak mungkin bisa untuk diisi lagi, tapi hanya ketika kosong maka bisa untuk diisi, maksudnya adalah ajaran bahwa apabila manusia ingin bisa merasakan kehadiran “jamah tangan Tuhan” dalam dirinya , maka dia harus mengosongkan dulu dirinya dari segala macam ikatan, dan jeratan-jeratan hawa nafsu, ketika dirinya telah benar-benar kosong dari setiap ajakan, dan hawa nafsu, maka saat itulah dia bisa untuk meminta fatwa pada ketenangan dirinya, dan insya’Allah menjadikan “jamah tangan Tuhan” dekat denganya.

Kesimpulan

Simbol dan kesenian Islam tidak bisa dipisahkan. Simbol menjadi bahasa bagi kesenian Islam untuk menyampaikan pesan-pesan yang dikandungya. Simbol memiliki pnegertian yang beragam, tetapi paling tidak, simbol bisa dirngkas menjadi tiga kriteris,: a. Berupa yang konkret baik segi materi ataupun non materi b. Yang merpresentasikan atau yang dikandung dibaliknya c. Berasal dari sesuatu yang Transenden, dan Terakhir. Simbol memiliki kaitan dengan al-Quran dalam memberikan permisalan untuk berkomunikasi dengan umat manusia. Al-Quran yang menjadi gudang ilmu serta jawaban dari setiap permasalahan, menyampaikan jawaban yang yang mampu ditafsirkan secara beraneka melalui simbol-simbol yang ada didalamnya. simbol bertalian dengan arsitektur berfungsi sebagai inti dari ajaran seni, bahwa seni adalah simbol, dan simbol menunjukan bangunan filosofis tertentu yang hendak disampaikan. Gaya bangunan tertentu menyimbolkan filosofi tertentu.


[1] R.M. Maclver. 1950. Society.

[2] A.N. Whitehead. 1928. Symbolism.

[3] F.W. Dillistone. 1986. The Power of Symbol. Pent. Kanisius. 2002. Yogyakarta.: 20

[4] Ibid. hal.: 82

[5] Ibid. Hal. : 223

[6] Ibid. Hal.: 224-225

[7] Martin Lings. 2000. Symbol and Archetype. Suhal Academy. Pakistan.: 1

[8] Leaman, Oliver. 2005. Estetika Islam. Mizan. Bandung. : 97-98

[9] Ismail Raji al-Faruqi dalam himp. M. Abdul Jabbar Beg. 1988. Seni di dalam Peradaban Islam. Pustaka. Bandung.: 97-98

[10] Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s