Shalahuddin al-Ayyubi

Nama lengkapnya adalah Shalahuddin Yusuf ibn Najmuddin Ayyub (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی) (Sho-lah-huud-din al-ay-yu-bi) (c. 11384 Maret 1193), dalam sejarah Perang Salib pada abad pertengahan, dia merupakan tokoh yang masyhur diberbagai kalangan baik dalam umat muslim sendiri maupun dikalangan musuh yaitu orang-orang Kristen. Dia dikenal karena ketangguhannya dalam peperangan, sifatnya yang kesatria, kepemimpinannya yang adil dan rasa kasihnya pada semua.

Shalahuddin atau yang dikenal dengan nama Saladin dalam terminology barat. Dilahirkan pada tahun 1137/1138 di daerah Tikrit, sebelah utara Irak. Saladin kecil adalah anak yang berbakat dan pandai. Ayahnya yang bernama Najmuddin Ayyub adalah pembantu yang mengabdi kepada kesultanan Saljuk pada waktu itu yang menguasai Irak, juga beserta pamannya yang bernama Asaddudin Syirkuh. Mereka bekerja kepada Imaduddin Zanky, gubernurkotaMousul, Irak, yang ditunjuk oleh kesultanan Saljuk. Keluarga Shalahuddin berasal dari bangsa Kurdi.

Di tahun 1139 Imadduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon, posisi Gubernur ternyata diserahkan kepada ayah Shalahuddin, Najmuddin Ayyub, dia juga merangkap sebagai pembantu dekat Raja Suriah, Nuruddin Mahmud. Shalahuddin kecil mengawali masa pendidikannya di daerah ini, Balbek. Di sini dia belajar ilmu politik, teknik perang, strategi dll, berikutnya dia berpindah ke Damaskus, tepatnya Istana Nuruddin, untuk melanjutkan pelajaran agamanya, disana dia belajar teologi sunni selama kurang lebih sepuluh tahun.

Di tahun 1169, Shalahuddin diangkat menjadi wazir ( penasihat/ menteri ) untuk daerah Mesir yang pada waktu itu masih dikuasai oleh dinasti Fatimiyah. Sebelumnya Shalahuddin bersama pamanya Syirkuh, menaklukan Mesir untuk kerajaan Abbasiyah, disini kerajaan Fatimiah masih belum hilang secara keseluruhan, karena sebagaimana sistem kekhalifahan Abbasiyah umumnya, disusun dari berbagai daerah taklukan yang mengakui khalifah Abbasiyah sebagai pemimpinya serta memberikan upeti. Penaklukan Mesir ini juga menjadi salah satu cita-cita Nurudin untuk menaklukan daerah-daerah, mulai Eufrat hingga Nil, yang akan disatukan untuk melawan tentara Salib.

Selama menjadi wazir, banyak kalangan yang menyangka bahwa Shalahudin tidak mungkin bisa bertahan lama pada posisi tersebut, karena banyaknya yang mengincar posisi wazir, serta pergantian turun-temurun dari anak-anak Nuruddin yang mendapat pertentangan dari wazirnya,namun kenyataannya berbeda Shalahuddin berhasil merevitalisasi ekonomi, menggalang kekuatan baru, dll. Shalahuddin, selama menjabat wazir mengemban tugas berat, yakni menjaga daerah Mesir dari serangan kerajaan Latin Yerussalem, kerajaan tersebut adalah bentukan para kaum Frank di Yerussalem, Saladin memang hidup pada masa, pasca perang salib pertama yang artinya, masa kejatuhan serta hilangnya daerah-daerah umat muslim oleh pasukan salib, karena setelah Yerussalem jatuh ke kekuasaan kaum Salib, mereka langsung mendirikan kerajaan Yerussalem latin yang dipimpin rajanya pada masa itu oleh Amalric I sebelumnya oleh Godfrey.

Di tahun 1171, Shalahuddin menjadi imam untuk daerah Mesir, karena pada tahun tersebut adalah masa terakhir kekuasaan khalifah Fatimiyah, al-Adid, kemungkinan kematiannya adalah dibunuh oleh Shalahuddin karena dikenal yang meruntuhkan dinasti Fatimiyah adalah Saladin. Shalahuddin dilantik pada sebelum Shalat Jum’at, dia diberi gelar imam al-Mustadi, mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari kalangan sunni, dan pengesahan dari kerajaan Abbasiyah yang waktu itu berpusat di Damaskus, Irak. Meskipun shalahuddin memimpin di Mesir, tetapi dia tidak memimpin secara penuh, dia hanya menjadi wakil Nurudddin untuk daerah tersebut. Shalahuddin selama masa tersebut, melakukan perombakan terhadap garis pewarisan sultan yang sebelumnya diwarisi oleh anak-anak Nuruddin karena dia memiliki hak secara sah untuk melakukan hal tersebut serta dia banyak melakukan revitalisasi ekonomi, mengorganisir ulang kekuatan militer sehingga semakin menambah kekuatan Mesir.

Sejenak kita lihat bahwa pada posisi inilah Shalahuddin sudah memulai usaha untuk membentuk sebuah kekuatan baru, terlihat dari usahanya dengan memecat semua yang berbau ke Nuruddinan, meskipun sebenarnya dia sangat menghormati gurunya tersebut, dan pada masa tersebut dia masih mengakui hak Nuruddin sebagai khalifah yang sah. Disebutkan bahwa Shalahuddin mengikut nasehat ayahnya untuk menghindari konflik apapun dengan Nuruddin selama Nuruddin masih hidup.

Di tahun 1174, Nuruddin Abul Qasim Mahmud bin ‘Imaduddin Zengi meninggal dunia. dia terkena demam karena komplikasi peritonsillar abscess, dan meninggal pada umur 59, saat akan berangkat ke Mesir. Keberangkatannya ke Mesir adalah untuk menghambat gerak langkah Shalahuddin, kejadian tersebut bermula ketika Nuruddin sadar akan kekuatan Shalahuddin yang semakin menguat, kiranya apabila kekuatan tersebut terus dibiarkan maka akan justru bisa-bisa menjadi pengganngu terhadap kekuasaan Nuruddin. Dugaan tersrbut juga diperkuat ketika Shalahuddin tidak iktu untuk menginvasi Yerussalem pada tahun 1171 dan 1173, Shalahuddin diasumsikan tidak ingin menjadi subjek Nuruddin.

Setelah kematian Nuruddin, Shalahuddin secara resmi menjadi khalifah/ sultan penuh di tanah Mesir. Pada tahun itu juga dia mengproklamirkan kebebasannya dari kekuasaan Saljuk-Abbasiyah di Irak. Disinilah cikal bakal lahirnya dinasti Ayyubiyah. Shalahuddin mendirikan dinasti Ayyubiyah, dinasti yang dibentuk atas nama keluarganya, dinasti yang memimpin Mesir, Suriah, Yaman (kecuali Pegunungan Utara), Diyar Bakr, Makkah, Hijaz dan Irak utara. Ayubiyyah juga dikenali sebagai Ayyubid, Ayoubites, Ayyoubites, Ayoubides atau Ayyoubides. Nama Ayyubiyah diambil dari nama ayah Shalahuddin, Najmuddin Ayyub. Shalahuddin lah yang menjadi sultan pertama yang kemudian dilanjutkan oleh anak-anaknya. Ayyubiyah di tangan Shalahuddin, meruntuhkan dinasti Fatimiyah, pada tahun 1171, yang imam terakhir pada waktu itu dipimpin oleh al-Adid, Mesir dikuasai sepenuhnya. Masa kesatuan hampir hanya dirasakan saat Shalahuddin memimpin, karena setelah meninggalnya, anak-anaknya saling berebut kekuasaan sendiri, hingga di tahun 1200, Al-Adil, adik Shalahuddin berhasil menghimpun seluruh kekuasaan dinasti, proses yang sama juga  terjadi padanya, w.1218, yang dilanjutkan anaknya, al-Kamil, w.1238, tetapi kekuatan Ayyubiyah sampai titik ini masih menunjukan eksistensinya, hingga pada masa sultan terakhir, Turansah, w. 1250, kekuatan Ayyubiyah mulai pudar, Turansah dibunuh oleh Jenderal-Budak Mamluknya, Aibek, yang kemudian mendirikan dinasti Bahri.

Setelah kematian Nuruddin inilah pergerakan militer secara terang-terangan mulai dilakukan, Shalahuddin memerangi Ismail, dia berangkat ke Damaskus dan berhasil menguasainya, sementara Ismail lari ke Aleppo di sana, dia terpojok maka kalah dan meninggal di tahun 1181. Pendapat kedua menyebutkan bahwa Ismail waktu itu masih terlalu belia untuk memimpin, cara memimpinya dengan dikawal seorang wali, wali inilah yang mengecilkan kemungkinan persatuan untuk penggalangan kekuatan melawan tentara salib, karena terjadi banyak perebutan kekuasaan antar anak, sehingga wilayah Nuruddin menjad terpecah-pecah. Shalahuddin datang ke Damaskus untuk mengajak bersatu dan membereskan keadaan, tetapi mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin sehingga Shalahuddin memeranginya, dan kemudian berhasil menguasai Damaskus, dan memperluas hingga wilayah Irak utara.

Shalahuddin sekarang memipin, wilayahnya tersebar dari Mesir hingga Syiria, sebuah kekuatan yang dirasa cukup untuk membendung gerak pasukan salib, apa yang menjadi konsen Shalahuddin selanjutnya adalah mengusir kaum Frank pasukan Salib dari tanah Arab. Kita bisa melihat metodologi Shalahuddin dalam menghimpun kekuatan, yakni pertama, menaklukan berbagai daerah-daerah baik kecil maupun besar disekitarnya, kedua dikumpulkan dalam satu komandonya, untuk digerakkan bersama melawan pasukan salib. Asumsinya Shalahuddin berfikir bahwa untuk tumbuh satu persatuan dia harus menyatukan seluruh daerah dalam satu kekuasaanya agar tidak tumbuh perpecahan atau mungkin perbedaan.

Musuh utama Shalahuddin sekarang adalah keberadaan tentara Salib yang telah menguasai tanah suci Jerussalem. Pada masa inilah nama Shalahuddin menjadi masyhur, dia berhasil merubah semangat masyarakat sebelumnya yang sangat tidak memperdulikan jihad, yang sebelumnya saling bertikai sendiri-sendiri, menuju semangat satu sebuah rasa suci untuk membebaskan Jerussalem dari tangan kaum kafir.

Carole Hillenbrand dalam bukunya Perang Salib dari prespektif Islam, memasukan pembahasan Jihad berkenaan dengan masa ini. Jihad, sebuah perjuangan dan semangat keagamaan yang tumbuh untuk membela agama yang dipercayainya. Jihad dalam Islam dapat dibagi menjadi dua Jihad Ashgar dan Jihad Akbar, jihad ashgar adalah berjuang dimedan perang seperti peperangan membela dan mempertahankan agama, jihad akbar adalah jihad dalam diri sendiri melawan ajakan hawa nafsu. Jihad Ashgar pada masa sebelum Shalahuddin agaknya kurang tumbuh subur, semangat yang ada, hanyalah semangat antar daerah kekuasaan untuk menguasai yang lain. Hal tersebut bisa dilihat dari motivasi yang dilakukan oleh shalahuddin, dalam menghimpun kekuatan untuk berangkat ke tanah Yerussalem, para penulis sejarah, dan khususnya penulis biografi Shalahuddin sendiri, yang dia adalah orang dekat Shalahuddin, menyebutkan contoh-contoh teks pidato penyemangat yang menunjukan alasan mereka mau untuk bergerak.

.Alasan  berikutnya juga bahwa, masalah Yerussalem menjadi konsen utama menjadi konsen Shalahuddin, padahal apabila memang dia menginginkan secara keuntungaan ekonomi, maka lebih baik mencari daerah yang lebih kaya secara SDA, tetapi hampir seluruh usaha setelah shalahuddin memimpin, diarahkannya menuju pembebasan Yerussalem. Shalahuddin juga dikenal menjadi seorang ulama yang memberikan komentar-komentar terhadap karya-karaya ulama terkenal lainya.

Shalahuddin mampu menjadi pahlawan bagi umat muslim, hampir semua bangga dengan keberhasilannya merebut kembali tanah Yerussalem dari cengkraman orang-orang Salib. Namanya banyak dipuji-puji di kitab-kitab sejarah, memang keberhasilannya tersebut bisa dikatakan menjadi puncak dari karier Shalahuddin itu sendiri.

Setelah pasukan Frank berhasil menguasai Yerussalem selama beberapa tahun kurang lebih 88 tahun, tepatnya pada perang salib ketiga, Shalahuddin berhadapan dengan pasukan Salib gabungan antara county Tripoli dan kerajaan Yerussalem, pada pertempuran Hattin.

Pertempuran Hattin berlaku di tempat berhampiran dengan Tiberias, di kawasan dimana ciri-ciri geografik utamanya adalah bukit berkembar, sebenarnya gunung berapi mati, (“Tanduk Hattin”) sebelah laluan melalui pergunungan utara antara Tiberias dan jalan dari Acre di sebelah barat.Jalan Darb al-Hawarnah, dibina oleh orang-orang Rom, menjadi laluan utama timur-barat antara teluk (ford) Jordan, Laut Galilee dan persisiran Mediterranean. Salahuddin Al-Ayubbi telah menawan bandar Tiberias, di sebelah timur, pada 2 Julai 1187 dengan hanya sebahagian kecil tenteranya. Raymond III dari Tripoli, yang isterinya, Eschiva dikepung di kubu di Tiberias, dan Raja Guy dari Jerusalem berada di Acre dengan sebahagian besar tentera Salib, yang mengandungi 1200 kesasteria, kemungkinannya hampir seramai 20 000 tentera berjalan kaki, dan sejumlah besar tentera upahan yang diupah dengan wang yang didermakan kepada Kerajaan Jerusalem oleh Henry II dari England. Raymond menekankan bahawa pergerakan dari Acre ke Tiberias merupakan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Salahuddin dan Sephoria merupakan kedudukan yang kukuh untuk dipertahankan oleh tentera salib, tetapi akibat pertelingkahan dalaman istana dan tuduhan pengecut, Raja Guy memerintahkan tenteranya bergerak menentang Salahuddin di Tiberias. Ini merupakan apa yang dirancang oleh Salahuddin, kerana dia mengira bahawa dia hanya mampu mengalahkan tentera salib di pertempuran lapangan, dan bukannya dengan mengepung kubu mereka.Tentera Salib memulakan pergerakan mereka dari Sephoria pada 3 Julai dan hampir serta-merta diganggu oleh tentera berkuda Muslim. Pada waktu tengahari, Salahuddin bergabung dengan tenteranya di Cafarsett dan menghantar tenteranya untuk bertempur dengan tentera Salib yang keletihan dan semakin sedikit. Tentera Salib telah dibahagi kepada 3 bahagian dan pasukan belakang (rearguard) telah dipaksa berhenti oleh serangan yang berterusan, dengan itu memberhentikan keseluruhan tentera Salib. Tentera Salib selepas seharian tanpa air, terpaksa berkhemah ditengah-tengah padang rumput, dikelilingi oleh tentera Salahuddin, yang menyalakan api di sekeliling khemah pada waktu malam bagi mengganggu tentera Raja Guy.Pada pagi 4 Juli tentera Salib, dahaga dan patah semangat, membongkar khemah dan bergerak ke arah matair Hattin, tetapi pergerakan mereka yang tidak sekata diserang oleh tentera Salahuddin yang menghalang pergerakan ke hadapan dan sebarang cubaan untuk berundur. Count Raymond melancarkan dua serbuan untuk meloloskan diri. Serbuan keduanya menyebabkan dia terpisah dari badan tentera utama dan memaksa dia berundur. Kebanyakan tentera berjalan kaki Salib melarikan diri ke Tanduk Hattin. Tanpa perlindungan tentera infantri, kuda kesasteria dibunuh oleh pemanah tentera Muslim dan mereka terpaksa berjuang berjalan kaki dan mereka juga turut berundur ke Tanduk Hattin. Tentera Salib dikepung dan, walaupun tiga kali menyerbu ke arah kedudukan Salahuddin, dapat dikalahkan. Pihak Muslim berjaya menawan khemah diraja Raja Guy, dan juga Salib Sebenar (True Cross), barangan reninggalan yang suci bagi tentera Salib. Salahuddin menawan Raja Guy, termasuk Raynald dari Chatillon, yang dibunuh Salahuddin sendiri, memenuhi ancamannya yang dibuatnya apabila Raynald mengganggu perniagaan orang Islam dan laluan haji pada awal abad tersebut. Gerard de Ridefort, Grand Master bagi Kesasteria Templar, dan Grand Master Kesasteria Hospitaller turut ditawan. Kemungkinannya 3,000 pejuang Salib lepas lari. Dari mereka yang ditawan, hanya mereka dengan keluarga yang kaya ditebus, yang bakinya dihadikan hamba abadi dan kesasteria kumpulan bersenjata (military orders) dihukum bunuh.

Pada pertengahan September, Salahuddin telah menawan Acre, Nablus, Jaffa, Toron, Sidon, Beirut dan Ascalon, dan Jerusalem jatuh ke tangan tentera Muslim pada 2 Oktober 1187, menandakan berakhirnya kehadiran Nasarani di Outremer.Berita kekalahan teruk di Hattin merupakan pendorong kepada pembentukan Perang Salib Ketiga.

Pada masa Shalahuddin, sejauh pemahaman pemakalah terdapat dua perjanjian dengan pasukan Salib, yang pertama adalah perjanjian Shulh ar-Ramlah, perjanjian ini ditandatangani pada masa akhir perang salib kedua, tepatnya setelah pertempuran Hattin, isi perjanjian tersebut menyebutkan bahwa para peziarah Kristen diizinkan untuk berziarah ke Baitul Maqdis seacara bebas. Perjanjian kedua adalah pada masa akhir kekuasaan Shalahuddin, (akhir umurnya), perjanjian kedua ini, ditanda tangani antara Shalahuddin dan Raja Inggris Richard I the Lion Hearth, dan bersifat memojokan umat muslim, karena pada perjanjian tersebut, menyerahkan beberapa daerah di kawasan pesisir ke tangan kaum Frank, mulai dari Askhelon hingga Anatolia.
pada masa kekuasaannya banyak dari kemajuan yang dicapai seperti pembangunan kemajuan peradaban, kebebasan dalam melaksanakan keyakinan, semisal bolehnya peziarah Kristen menuju baitul maqdis, perekonomian, dll.

Shalahuddin meninggal pada tahun 4 Maret1193 M. di Damaskus, Syria. Dia dimakamkan di masjid Umayyah di Damaskus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s