sejarah khawarij

Islam merupakan sebuah agama yang sempurna dan paripurna. Keyakinan untuk memeluk agama ini, timbul bukan hanya dari sebuah ‘kecelakaan religious’, tetapi seorang pemeluk mendasarkannya atas ketepatan dan kelengkapan dalil, itmam hujjah, yang telah disampaikan oleh para pembawa berita mengenai kebenaran agama Islam. Islam dalam perkembangan dan perjalanan sejarahnya, sepeninggal utusan tersebut nabi Muhammad saw, telah cukup banyak mengalami pasang surut, mulai dari konflik antar, peperangan antar, dan juga perbedaan-perbedaan interpretasi terhadap ajaran tersebut, tidak kurang ada madzhab (aliran) dalam Islam. Lantas bagaimanakah kita sebagai seorang muslim mendasari akan keislaman yang kita yakini selama ini ? apakah kita sudah melakukan kajian secara tulus dalam mencari islam yang murni ? ataukah hanya menjadi asal ngikut diantara perkumpulan ??

Salah satu aliran yang akan menjadi pembahasan pada makalah ini adalah khwarij, penulis akan membahas aliran ini, dari konteks sejarahnya, kronologisnya dan sedikit faham ajarannya.

KHAWARIJ

Khawarij, berasal dari wazan fi’il (kata kerja), bahasa arab kharaja, yang berarti keluar, kharij, orang yang keluar, khawarij adalah bentuk jamak dari ism fail (pelaku) kharij tersebut, yang berarti orang-orang yang keluar.

Mereka bisa disebut demikian, ataupun menyebut dirinya dengan demikian karena, mereka telah keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib, pasca peristiwa tahkim, arbitrase pada perang shiffin, antara imam Ali melawan Muawiyah. Kisahnya ini hampir teriwayatkan secara mutawatir, dan disepakati antara dua madzhab besar Islam sunnah, syiah. Shiffin, sesaat ketika pasukan Muawiyah sudah terpojok dan hampir kalah, mereka mengangkat al-Quran diatas tombak,[1] sebagai bentuk bendera putih menyerah, dan mengadakan perundingan. Meminta agar Al-Quran dijadikan sebagai penengah (hakim) diantara keduanya dan yang akan mengambil keputusan, tetapi itu hanyalah tipuan, menggunakan al-Quran sebagai tameng untuk menghindari kekalahan. Imam Ali bin Abi Thalib telah memerintahkan pasukannya untuk tetap menyerang mereka, karena itu hanyalah tipu muslihat mereka.

Imam Ali berkata “wahai manusia, jangan kalian terperangkap dalam penipuan dan kelicikan. Mereka menggunkan rencana ini hanya untuk menghindari aibnya kekalahan. Aku mengenal karakter setiap orang dari mereka. Mereka bukan pengikut al-Quran dan tak ada hubungan dengan mereka dengan keimanan atau agama. Tujuan perjuangan kita justru agar mereka mengikuti al-Quran dan berbuat menurut perintah al-Quran. Demi Allah, janganlah kalian terjerat dalam tipu daya mereka. Teruskan dengan tekad dan berani dan baru berhenti setelah mengalahkan musuh yang sedang sekarat.”[2]

Namun apa daya, kelicikan dan kurangnya iman telah bekerja. Ada orang-orang yang membangkang dan memberotak. Mis’ar bin Fadaki at-tamimi dan Zaid bin Husain at-Tha’i, bersama kurang lebih ada 20.000 orang yang berhenti, mereka menghadap imam Ali dan memerintakan imam untuk menghentikan peperangan, bila tidak mereka akan mengancam akan membunuh imam sebagai mana Utsman dibunuh.  Berkata “wahai Ali, jika engkau tidak merespon seruan al-Quran, kami akan memperlakukanmu seperti kami memperlakukan utsman. Segera kau akhiri perang dan tunduklah pada ketentuan al-Quran”. Imam Ali berusaha untuk memperbaiki mereka, tetapi apa daya.[3]

Mereka telah tertipu dengan setan yang berjubah al-Quran. Disinilah letak ujian keimanan seseorang sesungguhnya. Seperti apakah cinta pada  kebenaran itu sebenarnya ? apakah definisi cinta itu sendiri sebenarnya ?

Cinta adalah ketaatan, taat pada pemimpin yang haq, yang sudah dituliskan oleh Allah dalam al-Quran-Nya, sebagaimana Nabi juga bersabda demikian tentangnya. “Ali bersama dengan kebenaran dan kebenaran bersama dengan Ali”, “Ali bersama dengan al-Quran dan al-Quran bersama dengan Ali”, “ wahai Ali, engkau adalah al-Faruq (pembeda antara haq dan batil)”. Cinta yang sebenarnya adlah apabila kita mencintai, seseorang yang telah Allah jadikan sebagai barometer, mizan pembeda antara hak dan batil, maka ketaatan padanya, baiat mengikuti segala apa yang diperintahkan olehnya adlah menjadi kewajiban dan bentuk mengikuti kebenaran. Apakah pantas jika Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu perkara sementara memberikan pilihan yang lain terhadap perkara itu ?. jika cinta saja kepada Allah namun tidak dengan disertai kecintaan kepada manusia-manusia suci tersebut, maka bisa dipastikan itu adalah kecintaan sia-sia.  

Inni tarikun fi kum tsaqalain kitabullah wa itrati ahli baiti, huma lan tadhilla abadan min ba’dhi hatta yaritsa alaya haudha.

Sesungguhnya aku tingalkan kepada kalian dua perkara, kitab Allah (al-Quran) dan Ahlul Baitku, yang keduanya tidak akan berpisah, sampai bertemu dengan ku di telaga haud. Al-Hadis.

Mereka menuntut agar, Malik Asytar dipanggil dari medan laga. Karena terpaksa Imam Ali memerintahkan Yazid bin Hani untuk memanggil Malik. Malik berkata ini bukan saat yang tepat untuk mundur dari peperangan, tahanlah sebentar hingga nanti kembali dengan berita kemenangan. Namun ia membalas, jika Malik terlambat pulang maka mereka akan membunuh Imam Ali, “apakah engkau lebih mencintai kemenangan atau nyawa imam Ali ? kalau engkau lebih mencintai nyawanya maka engkau harus melepaskan tangan dari perang lalu pergi menghadapnya.” Malik Asytar kembali dengan kecewa. Dia membantah orang itu dengan sengitnya, namun mereka sudah tidak bisa diperbaiki lagi.[4]

Maka diputuskan setiap pihak harus menunjuk seorang hakam. Dari pihak Muawiyah diputuskan Amr bin Ash, dari pihak imam Ali orang-orang itu menunjuk Abu Musa. Imam Ali mengusulkan Ibn Abbas lah yang menjadi wakil dari kelompok pasukan Imam Ali, “karena kalian tidak menerima perintah tentang tahkim, setidak-tidaknya sekarang kalian setuju untuk mengangkat Abu Musa sbagai hakam. Ia bukan orang yang amat. Disini, ada Abdullah bin Abbas dan disini ada Malik Asytar, pilihlah seorang diantara mereka.” Ibn Abbas telah dikenal dalam kecerdasan dan kepandaiannya, tetapi lagi orang-orang ini, tidak menerima usulannya, dan menyuruh Abu Musa al-Asyari sebagai wakil saja, sedang Abu Musa, dikenal sebagai seorang tua renta yang tidak begitu pandai dalam berdiplomasi. Imam Ali sudah geram dan berlepas diri dari hal itu. “sorang yang tidak ditaati, dia sudah tidak memiliki suara, terserah lakukan apa semau kalian”. Dalam riwayat lain, “nah, lakukan sesuka kalian, tidak lama lagi kalian akan memakan tangan kalian karena perbuatan keliru kalian.” Sementara dari kubu Muawiyah, yang menjadi wakilnya adalah amr bin ash, seorang yang licik, penipu, dan jahat.[5]

Setelah hakim (pengengah) itu terpilih maka, kedua kubu sepakat untuk berunding pada satu mejaperundingan. Surat perjanjian ditulis, gelar kehormatan amirul mukminin pada nama Ali bin Thalib, bersikeras untuk dihapus oleh Muawiyah. Jika mengakui amirul mukminin mengapa mereka berperang melawannya. Sunnah dengan sunnah, hal itu sama seperti perjanjian Hudaibiyah ketika kaum kafir bersikeras untuk menghapus kata Rasulullah bersama dengan Muhammad.

Selanjutnya, antara Abu Musa dan Amr bin Ash, diikuti oleh beberapa jumlah pasukan, berunding pada sebuah benteng, Jaumatul Jandal, 400 meter antara Irak an Suriah. Awalnya Amr bin Ash menawarkan agar mengangkat Muawiyah sebagai pengganti, amiril mukminin Imam Ali, tetapi ditolaknya. Kemudian abu musa menawarkan Abdullah bin Umar sebagai pengganti saja, karena dia dikenal tidak pernah menumpahkan darah. Abu Musa, salah, terlihat kedunguannya, padahal Nabi pun menumpahkan darah, tetapi darah tersebut tertumpah diatas kebenaran, dan demi membela kebenaran. Amr menjawab, putra Umar itu tidak pantas, jadi pilihlah aku, Abu Musa menjawab, Muawiyah pun tidak pantas. Akhirnya, Abu Musa juga yang mengusulkan agar urusan ini, dikembalikan kepada umat. Keduanya sepakat untuk melepas jabatan pemimpin dan dikembalikan kepada umat untuk memilihnya. Maka, keduanya kembali kepada jama’ah dihadapan mereka, mengumumkan keputusanya. Amr bin Ash, dengan tipuannya, mempersilahkan Abu Musa yang pertama melakukannya. Abu Musa berkata, “kami sepakat untuk melepas jabatan kedua khalifah dan mengembalikan kepada umat, maka aku melepas Ali bin Abi Thalib, sebagai khalifah sebagaimana aku melepas cincin ini dariku” selanjutnya Amr bin Ash, menimpali “kalian sudah mendengar bahwa laki-laki ini, telah mecopot jabatan khalifah Ali, maka kini aku mengangakat Muawiyah suadaraku, menjadi khalifah sebagaimana aku memasang cincin ini di jariku.” [6]

Terjadilah keributan yang hebat, pasukan terpecah belah. Abu Musa berkata “engkau telah menipu, kau laksana anjing, yang jika engkau penuhi sesuatu akan menjulurkan lidahnya, dan jika meninggalkan akan menjulurkan lidahnya.” Amr menimpali, “kau laksana keledai yang membawa buku”[7]

Mendengar kabar itu, setelah peristiwa Tahkim Imam Ali berkhutbah[8] :

Segala puji bagi Allah, walaupun masa membawa (kepada kita) petaka yang meremukan dan kejadian yang besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan tak ada bersama-Nya sesuatu selain Dia sendiri, dan Muhammad adalah hamba pesuruh-Nya, shalawat Allah atasnya dan keluarganya.

Amma ba’d. Sesungguhnya orang yang durhaka kepada penasihat yang penuh welas asih, yang berpengetahuan dan berpengalaman menimbulkan kekecewaan dan mengakibatkan penyesalan. Aku telah memberikan kepada kalian perintah-perintahku tentang tahkim itu, telah kusampaikan kehadapan kalian pandanganku yang tersembunyi, aku berharap sekiranya pandangan Qashir[9] telah diterima; tetapi kalian menolaknya seperti lawan yang kasar dan pemberontak yang durhaka sampai si penasihat sendiri jatuh dala keraguan tentang nasihatnya dan lalu api (kecerdasannya) berhenti memberi nyala api. Akibatnya, kedudukanku dan kedudukan kalian menjadi seperti yang dikatakan penyair Bani Hawazin,

Kuberikan perintahku kepadamu di Mun’arajil-Liwa,

Tetapi tidak kau lihat baiknya nasihatku

Hingga menjelang tengah hari berikutnya

(ketika sudah terlambat).

Orang-orang yang sebelumnya membangkang semakin menjadi. Mereka keluar dari barisan imam Ali dan membentuk golongan khawarij. Membuat kelompok sendiri, dan malah mengkafirkan kedua belah pihak Imam Ali dan Muawiyah. Slogan mereka yang terkenal la hukma illa lillah, tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Dengan kata lain, menurutnya Imam Ali dan Muawiyah tidak berhukum dengan hukum itu. Imam Ali mengatakan mengenai slogan itu, kalimatul haq yuraduhal batil, kalimat yang benar tetapi maksudnya salah. Memang secara frasa kalimat itu adalah benar, tetapi maksud tujuannya adalah salah. Sekali lagi siapa yang berhak menjadi wakil di bumi ini, untuk menegakan hukum Allah selain mereka yang telah Allah tunjuk ??

Maka tidak ada pilihan lain bagi Imam Ali selain mengadakan perang dengan mereka. Agar tidak terjadi fitnah yang parah di muka bumi ini. mereka telah melakukan suatu kesalah yang fatal, yakni mengatakan imam Ali telah kafir, keluar dari agama. Petunjuk telah dihianati.

Waktu terus berputar, apabila kita mengkilas balik kronologis lebih lama lagi, pada masa Rasulullah saw. Kita pun mendapati sama, ada sebuah akar-akar sama yang sejalan dengan khawarij ini. mereka membuat sebuah makar, beribadah kepada Allah tetapi melupakan ketaatan kepadanya.

Ketika masa ketika Nabi Muhammad saw, masih hidup. Diriwayatkan pada suatu ketika, ada orang yang beribadah di suatu lembah begitu khusyuk kepada Allah, namun Nabi justru memerintahkan untuk membunuh orang itu, karena beliau melihat ada tamparan setan pada wajah orang tersebut. Kemudian nabi memerintahkan Abu Bakar untuk membunuhnya, tetapi tidak mau, kemudian umar, begitu juga, hingga Imam Ali lah yang dengan ketaatannya berani menghunuskan pedang pada orang tersebut. Tapi sayangnya dia sudah kabur terlebih dulu. Disebutkan juga bahwa ada hadis Nabi yang meramalkan akan keluar tanduk setan di bumi Najd.

Khawarij sebagai suatu aliran memang telah -bisa dikatakan- musnah, tetapi sebagai sebuah faham, faham-faham seperti khawarij ini masih hidup. Bahkan hingga masa kontemporer kini. Mereka yang pada masa modern kini, masih menunjukan sikap keengganan untuk berbaiat pada pemimpin yang sah; ekstrimitas, anarkisme, mengkafirkan sesama muslim yang tidak sefaham dengannya, dan yang menggembar-gemborkan perjuangan jihad, alih-alih malah membantai sesama saudara muslimnya sendiri, sementara malah berdamai mesra dengan orang-orang yang jelas-jelas kafir (amerika dan antek-anteknya).

Khawarij modern ini, adalah yang diusung oleh Ibn Taimiyah dan yang didukung sepenuhnya oleh Muhammad bin Abdul Wahab dari segi politik dan kepemimpinannya. Sehingga kita mengenal aliran wahabi. Salah satu ciri, yang unik dari mereka adalah, kelemahannya dan tidak mau menggunkan logika, akal. Lalu bagaimana mungkin agama akan difahami jika tidak dengan menggunakan akal?? Memahami mujassimah, tajsim, (berbadan, berebenda, maksudnya hal-hal gaib itu berbenda, bermateri, dengan kata lain, Allah itu memiliki tubuh sebagaimana kita, memiliki tangan sebagaimana kita, tetapi bentuknya bisa berbeda, lebih besar mungkin. Bagaimana mungkin??!)


[1] Rencana ini, diusulkan oleh wakil Muawiyah, Amr bin Ash yang terkenal liciknya. Karena sudah terpojok dan hampir kalah, ia mulai menggunakan taktik kotornya, dengan menggunakan al-Quran sebagai dalih, ia bertujuan untuk memecah belah pasukan imam Ali. Dengan akan ada yang berhenti perang dan ada yang terus berperang. Sehingga perang akan ditunda.

[2] Peny. Sayyid Syarif Radhi. 2009. Nahjul Balaghah: Mutiara Sastra Ali. Edisi Khotbah. Jakarta : Al-Huda. : 146-147

[3] Ibid. : 147

[4] Ibid.

[5] Ibid. : 147-148.

[6] Kermani, Abbas Rais. 2009. Kecuali Ali. Jakarta : al-Huda : 235

[7] Sayyid Radhi. : 148

[8] Sayyid Raddhi. : 146-149

[9] Ini merupakan sebuah peribahasa yang digunakan dalam suatu kejadian, ketika nasihat dari seorang penasihat ditolak kemudian disesali (kenapa ditolak). Faktanya, sebgai berikut. Jadzimah Abrasy, pengusa Hira, membunuh Amr bin Zharib, penguasa Jazirah, lalu hendak kawin dengan putrinya Zabba-yang tentu saja menaruh dendam pada pembunuh ayahnya. Qashir budak Jadzimah, menasihatinya supaya jangan berlaku seperti itu, tetapi nasihatnya ditolak. Ternyata kemudian Jadzimah dbunuh oleh Zabba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s