Shalahuddin al-Ayyubi

Nama lengkapnya adalah Shalahuddin Yusuf ibn Najmuddin Ayyub (Bahasa Arab: صلاح الدين الأيوبي, Kurdi: صلاح الدین ایوبی) (Sho-lah-huud-din al-ay-yu-bi) (c. 11384 Maret 1193), dalam sejarah Perang Salib pada abad pertengahan, dia merupakan tokoh yang masyhur diberbagai kalangan baik dalam umat muslim sendiri maupun dikalangan musuh yaitu orang-orang Kristen. Dia dikenal karena ketangguhannya dalam peperangan, sifatnya yang kesatria, kepemimpinannya yang adil dan rasa kasihnya pada semua.

Shalahuddin atau yang dikenal dengan nama Saladin dalam terminology barat. Dilahirkan pada tahun 1137/1138 di daerah Tikrit, sebelah utara Irak. Saladin kecil adalah anak yang berbakat dan pandai. Ayahnya yang bernama Najmuddin Ayyub adalah pembantu yang mengabdi kepada kesultanan Saljuk pada waktu itu yang menguasai Irak, juga beserta pamannya yang bernama Asaddudin Syirkuh. Mereka bekerja kepada Imaduddin Zanky, gubernurkotaMousul, Irak, yang ditunjuk oleh kesultanan Saljuk. Keluarga Shalahuddin berasal dari bangsa Kurdi. Continue reading

Basis Ontologis Klasifikasi Ilmu

Segala puji bagi Allah Sang Maha Kasih diatas para Pengasih, Sang Maha Penyayang diatas para Penyayang. “Kalau seandainya kamu menghitung nikmat Allah maka takkan pernah mampu.”. Segala puji  bagi Allah yang apabila pepohonan dijadikan pena dan seluruh lautan dijadikan tintanya, hanya untuk menuliskan asma Allah, maka takkan tercakup sedikitpun. Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan cahaya ilmu dan akal, sehingga dengannya manusia mampu  membedakan  dua jalan dan membimbingnya menuju kebenaran. Shalawat serta salam senantiasa tercurah limpahkan kepada cahaya petunjuk yang utama, puncak tauladan teragung, penutup para Nabi dan junjungan para pecinta. Muhammad saw, beserta keluarganya yang suci dan sahabat yang setia.

Ilmu pengetahuan menempati kedudukan yang penting dalam kehidupan manusia, baik secara individual sebagai sebuah pengenalan diri kemanusiaanya, dan juga konteks sosial dalam pembentukan peradaban  madani dan sempurna. Manusia mengenal ilmu, bersumber dari epistemologi yang bertugas menjustifikasi bahwa sebuah informasi bisa sah disebut ilmu. Hal ini, sekaligus telah membuktikan status ontologis obyek ilmunya dan tentu saja, mengklasifikasikanya menjadi beberapa cabang keilmuan sebagai konsekuensi logisnya. Pengklasifikasian ini, mensicayakan kita umat manusia, mudah dalam memahami dan menjelaskan pelbagai keilmuan, yang ‘ada’ dan bisa kita jadikan batu pijakan dalam berfikir.

Pemahaman yang benar terhadap obyek dan klasfikasi ilmu tersebut, akan  menentukan cara pandang kita terhadap ilmu dan alam semesta ini. Tulisan singkat ini, berusaha untuk mengupas tema tersebut.

Basis Ontologis Klasifikasi Ilmu

Salah satu pertanyaan mendasar pada diri manusia adalah, apakah yang bisa kita -manusia- ketahui ?. Maka, pertanyaan ini menjadi salah satu kupasan inti dalam epistemologi. Jawaban dari pertanyaan ini bisa beragam, tergantung dari epistemologi (filsafat ilmu) manakah yang digunakan. Epistemologi barat modern, mengatakan bahwa ilmu (sains), yang bisa diketahui manusia adalah “segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi oleh indera”. Sementara selainya tidak, hal ini dikarenakan epistemologi barat membatasi kajianya hanya pada bidang obyek yang bersifat empirik. Berbeda dengan pandangan tersebut, epistemologi Islam, mengatakan bahwa ilmu yang bisa diketahui manusia, bukan hanya mencakup obyek fisik inderawi semata, tetapi lebih daripada itu, manusia juga mampu untuk mengenali selainnya, yakni obyek metafisika. Continue reading

sejarah khawarij

Islam merupakan sebuah agama yang sempurna dan paripurna. Keyakinan untuk memeluk agama ini, timbul bukan hanya dari sebuah ‘kecelakaan religious’, tetapi seorang pemeluk mendasarkannya atas ketepatan dan kelengkapan dalil, itmam hujjah, yang telah disampaikan oleh para pembawa berita mengenai kebenaran agama Islam. Islam dalam perkembangan dan perjalanan sejarahnya, sepeninggal utusan tersebut nabi Muhammad saw, telah cukup banyak mengalami pasang surut, mulai dari konflik antar, peperangan antar, dan juga perbedaan-perbedaan interpretasi terhadap ajaran tersebut, tidak kurang ada madzhab (aliran) dalam Islam. Lantas bagaimanakah kita sebagai seorang muslim mendasari akan keislaman yang kita yakini selama ini ? apakah kita sudah melakukan kajian secara tulus dalam mencari islam yang murni ? ataukah hanya menjadi asal ngikut diantara perkumpulan ??

Salah satu aliran yang akan menjadi pembahasan pada makalah ini adalah khwarij, penulis akan membahas aliran ini, dari konteks sejarahnya, kronologisnya dan sedikit faham ajarannya.

KHAWARIJ

Khawarij, berasal dari wazan fi’il (kata kerja), bahasa arab kharaja, yang berarti keluar, kharij, orang yang keluar, khawarij adalah bentuk jamak dari ism fail (pelaku) kharij tersebut, yang berarti orang-orang yang keluar.

Mereka bisa disebut demikian, ataupun menyebut dirinya dengan demikian karena, mereka telah keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib, pasca peristiwa tahkim, arbitrase pada perang shiffin, antara imam Ali melawan Muawiyah. Kisahnya ini hampir teriwayatkan secara mutawatir, dan disepakati antara dua madzhab besar Islam sunnah, syiah. Shiffin, sesaat ketika pasukan Muawiyah sudah terpojok dan hampir kalah, mereka mengangkat al-Quran diatas tombak,[1] sebagai bentuk bendera putih menyerah, dan mengadakan perundingan. Meminta agar Al-Quran dijadikan sebagai penengah (hakim) diantara keduanya dan yang akan mengambil keputusan, tetapi itu hanyalah tipuan, menggunakan al-Quran sebagai tameng untuk menghindari kekalahan. Imam Ali bin Abi Thalib telah memerintahkan pasukannya untuk tetap menyerang mereka, karena itu hanyalah tipu muslihat mereka.

Imam Ali berkata “wahai manusia, jangan kalian terperangkap dalam penipuan dan kelicikan. Mereka menggunkan rencana ini hanya untuk menghindari aibnya kekalahan. Aku mengenal karakter setiap orang dari mereka. Mereka bukan pengikut al-Quran dan tak ada hubungan dengan mereka dengan keimanan atau agama. Tujuan perjuangan kita justru agar mereka mengikuti al-Quran dan berbuat menurut perintah al-Quran. Demi Allah, janganlah kalian terjerat dalam tipu daya mereka. Teruskan dengan tekad dan berani dan baru berhenti setelah mengalahkan musuh yang sedang sekarat.”[2]

Namun apa daya, kelicikan dan kurangnya iman telah bekerja. Ada orang-orang yang membangkang dan memberotak. Mis’ar bin Fadaki at-tamimi dan Zaid bin Husain at-Tha’i, bersama kurang lebih ada 20.000 orang yang berhenti, mereka menghadap imam Ali dan memerintakan imam untuk menghentikan peperangan, bila tidak mereka akan mengancam akan membunuh imam sebagai mana Utsman dibunuh.  Berkata “wahai Ali, jika engkau tidak merespon seruan al-Quran, kami akan memperlakukanmu seperti kami memperlakukan utsman. Segera kau akhiri perang dan tunduklah pada ketentuan al-Quran”. Imam Ali berusaha untuk memperbaiki mereka, tetapi apa daya.[3] Continue reading

Simbolisme dalam al-Quran dan seni rupa Islam

Simbol memainkan peran yang penting dalam kehidupan manusia. Simbol menciptakan sebuah kesepakatan antar anggota masyarakat terhadap sebuah arti yang menunjukan makna tertentu. Tanpa adanya simbol manusia tidak mungkin bisa untuk berkomunikasi, menyampaikan gagasan, menyetujui atau menolak sesuatu dll. Simbol tentu saja, telah menyatu dalam setiap dimensi kehidupan manusia. Dimanapun manusia ingin berkomunikasi, kepada siapapun, kapanpun, menginterpretasikan sesuatu segalanya menggunakan simbol.

Agama tanpa disangsikan, juga telah menjadi satu dengan adanya simbol, dalam kaitanya berinteraksi dengan manusia. Islam sebagai sebuah agama samawi, dalam menyampaikan pesan-pesanya menggunakan bahasa manusia, yang secara makna hakiki telah terkandung dan berasal dari langit. Kumpulan  pesan tersebut termaktub lengkap dalam kitab suci al-Quran al-Karim. Yang keindahan didalamnya mencerminkan pernghargaan tertigginya terhadap seni.

Islam adalah agama yang mengajarkan kecintaan terhadap aspek-aspek kesenian. Karena seni adalah keindahan yang memukau, maka secara alami Tuhan telah menganugrahkan hal tersebut kepada manusia untuk dicintainya. Seni Islam telah juga menjadi sebuah jalan untuk mencapai kesadaran terhadap keagungan dan keindahan Allah SWT, dan juga menjadi pendukung dalam  membentuk aturan yang benar dalam berkehidupan sehari-hari. Seni Islam bisa terbagi menjadi berbagai macam, salah satunya adalah seni rupa, yakni cabang seni yang berupa karya pada bidang 2 dimensi, atau 3 dimensi. Kaligrafi, Arabes, Arsitektur misalkan contohnya.

Seni disatu sisi dan simbolisme di sisi lain, dengan demikian tidak dapat dipisahkan , layaknya dua mata uang logam, dua sisi tetapi terletak pada satu benda. Dalam makalah ini mencoba untuk mengulas sedikit mengenai simbolisme dalam al-Quran dan Seni Rupa Islam (Arsitektur). Continue reading

Kearifan dalam mendekati sejarah Islam

Petanyaan : bagaimana kita bisa mencari kebenaran dalam peristiwa sejarah?

Kearifan dalam mendekati Sejarah Islam.

“Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” QS: Fathir : 44.

Umat manusia tanpa dipungkiri tidak terlepas dari sejarah. Sejarah menjadi sebuah paradigma yang menjadi perdebatan, apakah sejarah ditulis oleh umat manusia ataukah umat manusia menjadi obyek yang penulisnya adalah sejarah. Al-Quran bahkan 2/3 nya berisi tentang pelajaran dari sejarah. Sejarah menurut Prof. Dr. Muhammad Anis adalah sebuah kejadian yang terjadi pada masa lampau yang memberikan implikasi pada masa sekarang dan yang akan datang. Dalam artian peristiwa tersebut merupakan peristiwa besar, dan tercatat menimbulkan sebuah perubahan. Jatuhnya pulpen dari meja yang terjadi kemarin, tidaklah tercatat menjadi sejarah, tetapi perubahan dari rezim monarki menuju teokrasi, melalui spirit seorang ulama lanjut usia yang mampu menggerakan berjuta-juta rakyat, ialah tercatat menjadi sejarah.

Syahid Murtadha Mutahhari sendiri, mendefiniskan sekaligus menjelaskan fungsi sejarah menjadi tiga jenis. : 1. Sejarah Tradisional (Tarikh Naqli), yakni pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan yang terjadi pada masa lampau, yang memiliki hubungan dengan masa kekinian. 2. Sejarah Ilmiah (Tarikh Ilmy), yakni pengetahuan yang membahas mengenai kejadian-kejadian serta keadaan-keadaan pada masa lampau, kemudian menganalisanya untuk mengetahui hukum yang mengatur pergerakan dibalik masyarakat tersebut. 3. Filsafat Sejarah. (Tarikh Falsafi), yakni pengetahuan dalam mengetahui hukum yang menguasai sebuah pergerakan masyarakat dari satu tahap ke tahap lain. Filsafat Sejarah mencoba untuk menganalisa secara setahap demi setahap terhadap hukum-hukum yang menyebabkan perubahan tersebut. dengan kata lain bidang ini membahas mengenai perubahan masyarakat untuk menjadi sebuah peradaban madani, bukan tentang mewujudnya saja. Continue reading